ttg Helen Keller


Sebuah Catatan Tambahan:
Dua Surat
oleh Anne Sullivan*
06 Maret 1887
…Ia membantuku menurunkan kopor ketika keretaku baru tiba, dan ia begitu riangnya, terutama ketika ia melihat ada sebuah boneka di dalam kopor; boneka yang dihadiahkan gadis-gadis kecil itu buatnya. Melihat sebuah kesempatan baik, saat itu terpikir olehku untuk mengajarkan kata pertama padanya. Perlahan aku mengejakan kata “d-o-l-l” pada jemarinya,  menunjuk boneka, dan menganggukkan kepalaku, yang tampak baginya menjadi tanda bahwa boneka itu miliknya. Jadi, kapan pun seseorang memberikan sesuatu kepadanya ia akan menunjuk pemberian itu, lalu menunjuk dirinya sendiri, serta menganggukkan kepala. Ia terlihat bingung saat merasakan gerak jemariku. Aku mengulangi. Ia menirukan dengan baik sambil menunjuk boneka. Setelah itu, bonekanya kuambil lagi dengan niat nanti akan kuberikan lagi jika ia dapat melakukan ejaan tadi sekali lagi. Namun ia berpikir sebaliknya. Ia berpikir aku hendak merampas boneka dan tidak akan mengembalikannya lagi. Karuan, ia jadi marah dan berusaha merampas kembali boneka itu. Aku menggelengkan kepala dan mencoba mengejakan lagi kata itu pada jemarinya, namun ia justeru kian marah. Lalu, kupaksa ia duduk di kursi dan menahannya di sana sampai aku merasa letih sendiri. Aku terpikir bahwa sia-sia saja memaksanya seperti itu – aku harus melakukan sesuatu yang bisa mengarahkan arus pikirannya, batinku berkata. Ia lalu kulepaskan, namun bonekanya tetap kupegang. Aku turun ke lantai bawah dan mengambilkan sepotong kue (ia sangat menyukai panganan bergula). Dengan menunjukkan kue yang kubawa itu, aku mengejakan “c-a-k-e” pada jemarinya. Ia jadi sangat senang dan mencoba meraih kue itu dari tanganku, namun aku mengejakan kata itu sekali lagi dengan menyentuhkan kuenya pada tangannya. Dengan cepat ia melakukannya, dan aku pun memberinya kue itu yang langsung ia telan dengan buru-buru. Mungkin ia berpikir aku akan merampasnya. Setelah itu aku menunjukkan lagi bonekanya dan mengejakannya, serta mengajukan boneka itu ke hadapannya. Ia hanya mengeja “d-o-l”, maka aku tambahkan ejaan “l” serta memberikan boneka itu padanya. Setelah mendapatkannya ia langsung saja berlari turun ke lantai bawah dengan membawa bonekanya. Kalau sudah seperti itu seharian ia takkan mau lagi kuajak ke kamarku!!
Kemarin aku mengajarinya bermain kartu. Pertama aku membuat garis-garis vertikal dan membiarkannya merasakan dan memperhatikan bahwa ada ruang-ruang kosong pada baris-baris kartu itu. Ia dengan senang melakukannya dan menyelesaikannya hanya dalam beberapa menit, juga sangat rapi. Aku berpikir akan mengajarkannya satu kata baru lagi; lalu kuejakan kata “c-a-r-d”. Ketika baru pada ejaan “c-a”, ia tiba-tiba berhenti dan terlihat berpikir, serta kemudian membuat isyarat makan, menunjuk ke lantai bawah dan mendorongku ke arah pintu. Maksudnya, aku harus turun mengambilkan kue untuknya. Rupanya dua hurup “c-a’ mengingatkannya pelajaran hari Jumat kemarin – bukan karena ia paham bahwa kue adalah nama sesuatu, hanya karena asosiasi saja, kukira. Namun aku tetap meneruskan kata “c-a-k-e” dan menuruti kemauannya. Ia senang sekali. Setelah itu aku mengeja “d-o-l-l” pada jemarinya serta berusaha menemukan boneka itu. Ia mengikuti setiap gerakan jariku dan tahu kalau aku sedang mencari boneka. Ia menunjuk ke lantai bawah, mengatakan kalau bonekanya ada di bawah. Lalu aku menirukan gerakan yang ia buat ketika menyuruhku mengambil kue. Ia kudorong ke arah pintu. Ia melangkah, namun terlihat ragu-ragu, berdebat dengan dirinya sendiri apakah turun mengambilnya atau tidak. Akhirnya, ia memutuskan agar aku saja yang mengambilkannya. Aku menggelengkan kepala dan mengejakan “d-o-l-l” lebih berempati, serta membukakan pintu untuknya; namun tetap aja ia bersikeras menolak. Saat itu kulihat ia masih belum menghabiskan semua kuenya, maka aku langsung mengambilnya dari tangannya, menunjukkan kalau ia mengambilkan boneka kuenya akan kukembalikan. Lama ia berdiri saja, wajahnya memerah; namun kekuatiran kehilangan kuenya mengalahkannya. Ia turun mengambilkan boneka dan memberikannya kepadaku, dan tentu saja kuenya kukembalikan lagi. Tapi sayang, kalau sudah seperti itu, ia takkan mau lagi kembali ke kamar!

05 April 1887
...Sesuatu yang sangat penting terjadi. Helen sudah selangkah lebih dalam pelajarannya. Ia sudah mengerti bahwa segala sesuatu punya nama, dan hurup menjadi kunci utama agar ia bisa mendapatkan segala yang ia mau.
Dalam surat sebelumnya telah kuceritakan bahwa persoalan “mug” dan “milk” telah membuat Helen begitu dongkol. Ia bingung membedakan nama-nama benda ini dengan kata kerja “drink”. Helen tidak tahu kata untuk “drink” namun selalu melakukan pantomim minum kapan saja ia mengeja “mug” dan “milk”. Tadi pagi ketika sedang bermain air, Helen menanyakan nama untuk “water”. Kalau sudah ingin tahu nama sebuah benda Helen akan menunjuknya dan menyentuh tanganku. Aku lalu mengejakan “w-a-t-e-r” dan tidak memikirkannya lagi hingga selesai sarapan. Tapi kemudian muncul di pikiranku bahwa dengan bantuan kata baru ini aku harus membereskan persoalan “mug-milk” tadi. Aku lalu membawanya ke sumur pompa serta menyuruh Helen memegang mangkoknya di bawah kran sementara aku memompa. Ketika air telah mengucur memenuhi mangkoknya, aku mengejakan “w-a-t-e-r” pada tangan Helen yang lain. Kata itu yang menyelinap bersamaan dengan kucuran air sejuk seolah membelai tangan Helen sungguh membuatnya bergetar. Tiba-tiba Helen menjatuhkan mangkok dan berdiri; seolah seseorang yang baru sadar. Aku jadi terpaku. Seberkas cahaya membersit di wajahnya. Beberapa kali ia mengeja kata “w-a-t-e-r”. Lalu berjongkok lagi dan menyentuh tanah, menanyakan namanya, menunjuk pompa beserta teralinya, tapi kemudian tiba-tiba ia berputar dan menanyakan namaku. Aku mengejakan “Teacher”. Persis saat itu babysitter-nya muncul dengan menggendong adik Helen, dan langsung Helen mengejakan “baby” serta menunjuk adiknya itu. Sepanjang jalan pulang ke rumah Helen sungguh senang sekali; ia selalu menanyakan nama setiap benda yang ia sentuh, sampai hanya dalam beberapa jam saja ia sudah tahu banyak kosa kata baru, seperti: door, open, shut, give, go, come, serta banyak lagi.
P.S. – Pagi ini Helen bangun laiknya peri cahaya: ia menyapa setiap benda yang ia jumpai, menanyakan nama benda itu dan memberikan ciuman pada pipiku atas setiap kegembiraan yang ia peroleh. Tadi malam ketika aku sedang berbaring di atas ranjang, Helen menyelinap masuk, bergelayut di pangkuanku, dan memberiku ciuman pertamanya; membuat hatiku bergetar terharu, air mataku menetes perlahan; begitu bahagianya.

* Anne Sullivan Macy (1866-1936) adalah guru dan sekaligus teman Helen Keller selama lebih dari lima puluh tahun. Hidupnya bersama Nona Keller sudah menjadi pokok kajian sejumlah buku dan juga drama dan film berjudul THE MIRACLE WORKER.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Cultural Studies??