Membongkar Mitos


Ada Apa di balik Rambut Agnes
oleh: Tamam Ruji H.
Agnes Monica memang ahlinya membuat tren. Selain dikenal sebagai sosok fenomenal lantaran keselebritisan dan kebintangannya pada usia yang masih sangat muda, Agnes juga oleh kalangan remaja banyak ditiru setiap gaya dan penampilannya. Setiap penampilannya selalu memberikan tontonan segar dan menarik; bukan hanya karena kemerduan suara, keatraktivan performa, dan dandanan busana penuh gaya, tetapi juga karena model rambut Agnes yang selalu bertransformasi dan tampil unik.
Gbr. 2
Berkait dengan yang terakhir ini, tentang gaya rambut, Agnes terkenal jagonya. Dalam setiap penampilannya, gaya dan model rambut Agnes selalu tampak menarik. Bukan hanya karena kemilau rambut yang penuh warna, tetapi karena gaya dan model rambut Agnes juga cenderung tampil beda dan unik. Di kala Agnes masih dibayangkan banyak orang dengan model rambut bergaya harajuku, gaya anak gaul ala Jepang, baru-baru ini dalam single terbarunya, “Teruskanlah”, dalam album Sacredly Agnezious, Agnes muncul lagi dengan gaya rambut barunya. Kali ini model rambut Agnes bergaya simple trendy; lurus mengembang dan dipotong pendek, sebuah tiruan gaya yang sudah lama melekat dalam diri selebriti ternama Victoria Beckham (Gambar 2). 
Gbr. 1
Senyatanya, Agnes kerap melakukan transformasi gaya atau model rambut (Gambar 1.); mulai dari gaya sportyfunky, feminim, bahkan gaya unik khas harajuku, sampai gaya yang terakhir ini, simple trendy (Gambar 3). Tentang perubahan gaya rambut ini, Agnes sendiri memberi komentar. “Aku pengin menciptakan image baru. Semuanya berbeda dengan penampilan sebelumnya. Untuk rambut, aku potong pendek dengan bentuk mengembang. Pokoknya, berbeda dengan gaya rambut artis-artis lainnya. Model rambut ini, pokoknya agnes banget, deh,” ujarnya.[1]
Gbr. 3
Dalam tulisan ini, penulis bukan hendak menelisik dan mempreteli potongan rambut Agnes secara detil, tapi penulis akan membaca lapisan makna gaya rambut ‘simple trendy’ Agnes, dan akan sedikit mengulas motif yang mendasari perubahan gaya rambut Agnes menjadi model simple trendy. Pertanyaan besarnya adalah: “Ada apa di balik gaya rambut Agnes?”
Image, kata ini memang menjadi penting dan sentral manakala berbicara tentang model atau gaya rambut. Di dalam The Rhetoric of Romanticism (1988: 2), De Man menyatakan bahwa the image – be it under the name of symbols or even myth – comes to be considered the most prominent dimension of the style.”[2] Kehadiran suatu tanda tidak semata dimaknai berdasarkan kegunaan denotatif tanda itu sendiri, tetapi, seperti pandangan Barthes, tanda itu sudah mensignifikasi suatu nilai budaya dan menjadi mitos. Dalam konteks ini, tanda telah menjadi ‘kenderaan tanda’ terhadap aspek-aspek konotatif budaya, seperti struktur status masyarakat (Gottdiener, 1995: 15). Dan, ketika suatu tanda hadir tanda itu secara langsung masuk ke dalam ranah sosial. Barthes menegaskan bahwa “every object of use becomes encoded with its social function, so that the object itself is a ‘sign function’” (Gottdiener, 1995: 22).
Untuk memahami image, Barthes mencanangkan suatu cara, yaitu lewat analisis terhadap pesan-pesan semiologis (1977: 32). Oleh karena image yang ditampilkan Agnes, dalam konteks ini, adalah suatu permainan perbedaan (difference) dalam penciptaan makna, maka, senyatanya, image di sini bukan saja berfungsi sebagai mode of signification, sebagaimana Barthes melakukan distingsi, tetapi juga sebagai mode of communication; atau suatu sistem fesyen. Untuk itu, penulis hendak membuktikan bahwa gaya rambut Agnes hadir sekaligus pada dua ranah tanda: mode of signification, atau sistem komunikasi, dan mode of communication, atau sistem fesyen. Dengan ini, pendekatan yang penulis gunakan untuk membaca moda signifikasi dan moda komunikasi gaya dan model rambut Agnes ini adalah berdasarkan pendekatan sosio-semiotik; yaitu, suatu pendekatan yang memanfaatkan model tanda untuk mendekonstruksi artikulasi antara nilai tanda dengan kehidupan materi yang tujuannya adalah untuk menganalisis fenomena-fenomena kebudayaan materi (Gottdiener, 1995: 27 dan 29).
Dalam tulisannya tentang mitos Abbé Pierre, The Iconography of the Abbé Pierre, Barthes menegaskan bahwa model rambut dapat mengubah image seseorang. Model rambut “zero degree” (netral) Romo Pierre telah menjadi label aliran Fransiskan, yang sebenarnya potongan rambut itu pertama kali dimaksudkan sebagai perlawanan terhadap kesantaan, hanya di kemudian hari justeru dipandang sebagai a superlative mode of signification, yang mana model rambut itu bahkan mendandani sang Romo sebagai Santo Franciscus. Mengutip Barthes, “mitos Romo Pierre dapat digunakan sebagai modal yang berharga: fisiognomi sang Abbe. Suatu fisiognomi yang tajam, yang secara terang memperlihatkan tanda-tanda kerasulan: ekspresi yang ramah, rambut model seorang Fransiskan,... potongan rambut, misalnya, setengah gundul, tanpa dibuat-buat dan tanpa bentuk yang definit, tampak jelas hendak menggunakan model yang sungguh tanpa pertimbangan artistika, dan bahkan tanpa teknik, sejenis potongan rambut zero degree. Seseorang tentu harus memotong rambutnya; tapi setidaknya, let this necessary operation imply no particular mode of existence; let it exist, but let it not be anything in particular.” (1972:47).
Sungguh, tidak ada satupun yang bisa lepas dari makna. Setiap objek atau isyarat peka atau rentan terhadap imposisi makna, tidak ada sesuatu pun yang resisten terhadap proses ini.[3] Demikian juga yang berlaku dengan gaya rambut Agnes, bahwa model rambut cenderung menciptakan mitos dan makna. Dari kacamata Volosinov, “any item of nature, technology, or consumption can become a sign, acquiring in the process a meaning that goes beyond its given particularity.” Dengan ini, Volosinov bahkan menegaskan bahwa setiap tanda eksis tidak semata sebagai bagian dari suatu realitas—tanda itu mencerminkan dan membiaskan realitas lain (1973: 10). Jadi, yang ditampilkan dalam model rambut bukan lagi denotasi fungsional rambut itu sendiri, untuk perlindungan kulit kepala “zero degree” Agnes misalnya, tetapi model rambut sudah menjadi media pencipta mitos, yang beroperasi sebagai a second or higher order sign function of mythical proportions (Gottdiener, 1995: 23). Rambut Agnes menampilkan realitas lain; suatu hiperrealitas.
Adalah sah-sah saja bagi Agnes untuk mengatakan bahwa potongan rambut pendeknya insidental, akibat salah potong.[4] Barthes secara khusus telah memperlihatkan kemampuan tanda untuk membangun dalam diri tanda itu sendiri suatu tatanan asosiasi denotatif (tingkat pertama), konotatif (tingkat kedua), dan tingkat lebih tinggi lagi. Dengan cara ini, suatu tanda dapat menjadi sebuah hipostatisasi yang memadatkan keseluruhan ideologi ke dalam sebuah kata atau image; dalam suatu pelapisan-pelapisan makna. Dalam kaitan ini, tatkala penanda denotatif (signifier) model rambut pendek Agnes memperlihatkan petanda konotatif ‘kedewasaan’, ‘kematangan’, dan ‘kesederhanaan’, tanda konotatif ini kemudian dapat dikaitkan dengan suatu pemaknaan semiologis berikutnya, yaitu mitos (a higher order of semiologic system), yang merujuk pada suatu ideologi high status living; artis papan atas, dewasa, matang, dan sederhana, dan a go-international artist and singer.
Di sinilah berlaku apa yang disebut Barthes permainan tanda dalam lapisan-lapisan makna (layerings of meaning) untuk mencapai sebuah mitos. Dengan ini pula, sebenarnya, Agnes hendak menegaskan mitos kebintangannya (the myth of stardom). Agnes hendak membangun suatu hiperrealitas berkait dengan status keartisan dan keselebritiannya. Kon­struksi makna yang hendak dilekatkan Agnes terhadap dirinya dengan rambut pendeknya adalah status bintang kelas atas (first-class star), yang dipan­dang sama derajatnya dengan kebintangan Victoria Beckham; seorang yang sudah sangat ter­kenal dan identik dengan selebriti kelas in­ternasional yang punya gaya potongan rambut simple trendy. Tampaknya, sebagai penyanyi solo terdahsyat versi ajang Dahsyat Award, Agnes hendak menya­takan bahwa ia sekarang sudah berada jauh lebih tinggi dibandingkan pencapaian sebelumnya, tatkala masih menggunakan model rambut harajuku; suatu peralihan dari keremajaan dan ‘anak gaul banget’ menuju usia matang dan dewasa. Dengan demikian, moda signifikasi gaya rambut Agnes adalah mitos kedewasaan, kematangan, dan juga kesederhanaan, yang mana kemudian pada proses signifikasi berikutnya, melahirkan image kebintangan (stardom).
Gaya rambut Agnes juga dipandang sebagai moda komunikasi. Sebagaimana the dress code yang kendati punya kuasa regulatoris, gaya rambut juga dipandang bukan semata sebuah teks atau sebuah sistem komunikasi, tetapi mendasari sistem kedua, the fashion system, yang berfungsi mengontrol putusan sehari-hari individu berkait dengan penampilan untuk tujuan menjual komoditas industri fesyen (Gottdiener, 1995: 39). Dalam kaitan ini, penulis hendak menegaskan bahwa model rambut Agnes bukan hanya menciptakan perubahan image, tetapi sekaligus gaya rambut Agnes secara intensional mengkomunikasikan sebuah model tertentu untuk ditiru; model simple trendy sudah menjadi fashion sekaligus produk komoditas. Di sinilah motif ideologis gaya rambut Agnes bermain. Gaya rambut Agnes secara intensional disebarkan oleh industri fesyen untuk mengontrol penampilan dengan tujuan menjual komoditas. Sebagai the media of social interaction, gaya rambut Agnes, dengan kata lain, sudah melampaui kode pakaian (the dress code) dan telah menjadi sistem fesyen dalam upayanya untuk memanipulasi konsumen agar mengikuti gaya simpe trendy; bukan demi kebutuhan, tetapi agar terlihat “fashionable”. Konsekuensinya tentunya kemunculan kebutuhan-kebutuhan semu lainnya dari para pencari gaya dalam upayanya meniru Agnes. Agnes menjadi seorang trensetter. Semua hal yang telah dipertontonkan lewat tubuh, khususnya model rambut dalam kasus Agnes adalah lebih dari sekedar demonstrasi penampilan, melainkan demonstrasi ideologi; suatu ideologi konsumerisme. Jadi, sistem fesyen diapropriasi oleh kapitalisme lewat suatu manipulasi tekanan-tekanan sosial yang mencakup dinamika fesyen. Gaya rambut Agnes, dengan demikian, adalah juga bagian dari proyek kapitalisme yang bertujuan untuk menggiring kaum remaja, setidaknya fans atau para pengemar Agnes, untuk membeli, membeli, dan membeli serta meniru gaya Agnes. Dengan label Agnes sebagai bintang, maka segala image yang ada dalam diri Agnes akan menjadi pengejaran sehari-hari. Dengan bahasa Gottdiener, “within this idealist world, we live by feeding off images that the media constantly produces” (1995: 23), dan di sinilah gaya rambut Agnes sebagai moda komunikasi atau sistem fesyen berlaku: Agnes sebagai trend-setter.


[1] Lih. http://artis.inilah.com, diunduh pada hari Sabtu, 06 Juni 2009.
[2] Lih. De Man, The Intentional Structure of the Romantic Image, dalam The Rhetoric of Romanticism (New York: Columbia University Press, 1984, p. 2, Henceforth), dalam Jonathan Culler, Framing the Sign: Criticism and Its Institution, 1988: 112.
[3] Lih. http://seacoast.sunderland.ac.uk/myth.htm
[4]Lih. http://img.kapanlagi.com/partner/top_leaderboard.php, diunduh pada tanggal 29 Juni 2009.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Cultural Studies??

ttg Helen Keller