Bisnis Eufemisme
Bisnis Eufemisme
Tidak salah Remy Sylado mengatakan bahwa salon adalah sarang lonte. Satu penyamaran fakta lewat bahasa (baca: eufemisme). Bahkan, lebih parah, eufemisme yang sudah diperbisnis. Pada sebuah fiksi, ada satu film berjudul Working Girls, bercerita seputar kehidupan lesbian bernama Molly yang bekerja pada sebuah kantor bisnis legal. Hanya, kantor ini ialah kedok belaka; rumah pelacuran. Pada kantor ini, Molly menjabat sebagai sekretaris. Walah, senyatanya, eufemisme telah dijadikan sebagai sarana buat menutupi bisnis ilegal prostitusi.
Ingin fakta? Tanyakan anak kecil tentang fungsi salon, ia pasti akan menjawabnya sebagai tempat untuk memotong rambut atau merias wajah. Tetapi, coba tanyakan pada salah satu mahasiswa di sebuah kota besar, Anda bisa jadi akan mendapatkan jawaban berupa pertanyaan balik; salon apa dulu?? Ya, begitulah. Salon, dewasa ini, sudah memiliki makna ganda. Salon yang dulunya hanya sebagai tempat untuk memotong rambut atau merias wajah, karuan belakangan ini sudah memiliki makna konotasi alias sudah bertambah fungsinya; tempat untuk pijat (masaj, kata orang kita melayu); malahan, dengan sedikit menyisipkan tip, maka dijamin Anda dapat memperoleh lebih dari sekedar pijat!!! Alamaaak!!!
Betapa indah nian berbahasa dengan ragam penuh tatakrama dan sopan santun. Cara ini ialah ungkapan rasa tipaslira, dasar kepekaan antarsesama. Hanya saja, manakala cara pengungkapan seperti ini dimanfaatkan untuk menistai karakter subjek lain, sudah di mana tah letak moralitas berbahasa? Bukan mencari kambing hitam, yang pasti, ada sesuatu yang terjadi yang perlu diteliti pada cara kita berbahasa, pada pikiran dan budaya kita. Ya begitulah.
Seperti dikatakan, pada dasarnya, orang menggunakan eufemisme chiefly to conceal feared things, for example, death; to conceal the reality of unthinkable crimes; to conceal references to sex, body parts and fluids, and excrement; and to elevate otherwise lowly sounding or derogatory occupational titles and institutional names. Eufemisme ialah satu gejala berbahasa untuk memperhalus ungkapan atau menyamarkan satu fakta kehidupan. Ada beberapa prinsip dasar bereufemisme ria, di antaranya ialah lewat singkatan. Ungkapan-ungkapan kurang sedap akan terasa lebih enak didengar ketika disingkat. Misalnya, salon untuk sarang lonte tadi – apakah pihak tantib akan menyegel usaha salon jika usaha tersebut jelas menuliskan sarang lonte pada papan nama usahanya? – amir (baca:amer) dan AP untuk inuman beralkohol anggur merah dan anggur putih. Nah, ini lagi. Bisnis eufemisme juga sudah merambah ke dunia bisnis iras (inuman keras). Bahkan, lainnya, agar bisnis devisa Negara lancar, kata babu atau pembantu disamarkan menjadi TKI atau PRT. Wah, luar biasa!!
Cara lain biasanya juga lewat penggunaan kata-kata asing. Misalnya, seperti terbaca pada sebuah Harian, ‘Rendra tak pernah sungkan untuk menemani kalau istri sedang mencari perangkat under wear.’ Apakah akan sangat kasar, misalnya, kalau menuliskankannya dengan celana dalam? Pasti.
Sebagai alat, bahasa memang bisa dipergunakan baik untuk hal yang positif maupun yang negatif. Bukan salah bahasa. Seorang esais, Hugh Rawson mengatakan bahwa eufemisme ini sebenarnya sudah menjadi society’s basic lingua non franca. Menyangkut watak seluruh umat manusia, tanpa memandang latar belakang. Ia merupakan satu permukaan sekaligus tanda yang kasatmata dari satu kecemasan batin, konflik, rasa takut, dan juga rasa malu.
Hanya, jika dikaji lebih teliti, sebenarnya eufemisme tidaklah berjalan linear dengan budaya feodal. Artinya, dalam masyarakat yang paling tidak feodal sekalipun eufemisme merupakan hal yang lumrah. Ia bersifat universal. Oleh karena itu, saya tidak sependapat dengan Berlian, pada kolom ini beberapa minggu yang lalu, yang mengatakan bahwa sapaan kau, kamu, dan kalian merupakan ungkapan eufemistis. Dalam konteks nusantara, sapaan sedemikian tidaklah dapat dikategorikan sebagai penyamaran atau penyembunyian satu kenyataan, maupun ekspresi ketakutan; ia hanya satu ungkapan penghargaan. Ada satu dasar nuansa yang berbeda ketika si ucok menyebut ompung untuk menghindari sebutan macan atau harimau, atau ketika si ucok mengatakan melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri untuk maksud bersetubuh atau berzina, dengan ketika si ucok menyapa bapaknya dengan ayah atau ketika si Anu menyapa si Ani, “Sampeyan mau ke mana?” Pada kasus yang pertama, ungkapan tersebut berangkat dari satu perasaan takut ataupun penyamaran/penyembunyian satu kenyataan. Lain halnya dengan motivasi uangkapan kasus kedua, yaitu berangkat dari budaya sopan santun/tata krama yang memang feodalistis, hanya. Artinya, sapaan-sapaan khas budaya feodal belumlah dapat dikategorikan sebagai satu eufemisme ria.
Comments
Post a Comment