Eufemisme
Bahasa
Eufemisme
Benny H Hoed
Guru besar Emeritus
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
Apa itu eufemisme? Definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005): “ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar atau tidak menyenangkan, misalnya meninggal dunia untuk mati”. Definisi Webster (1991): “the substitution of an agreeable or innoffensive expression for one that they may offend or suggest something unpleasant”. Menurut kamus ini, kata tersebut berasal dari Yunani Kuno, euphomรดs ‘sounding good’ atau enak didengar.
Menarik bahwa eufemisme sering jadi bahan ejekan, dicerca sebagai cara bahasa munafik. Betulkah? Eufemisme adalah bagian adat bahasa, ada di semua kebudayaan, dan merupakan bagian tatakrama atau santun bahasa dalam pergaulan antarpribadi, baik dalam poros kekuasaan (sosial, jabatan, usia) maupun solidaritas (khususnya dalam hubungan tak dekat). Pada poros kekuasaan, jangankan seseorang yang berada di bawah, yang lebih berkuasa pun tak akan sembarangan berbicara kepada yang di bawahnya. Dia merasa perlu memakai ungkapan eufemistis, misalnya Kepala Biro kepada pegawai rendahan: “Saya ikut berduka atas wafatnya orang tuamu, Man”, alih-alih “Saya turut berduka atas matinya orang tuamu, Man”.
Saat dua orang bertetangga bertemu: “Gimana kabar Ibu?” Tentu saja yang dimaksud dengan ibu di sini adalah istri. Kata ibu dianggap lebih sopan dan menyenangkan daripada istri yang dianggap kurang sopan. Saat mencari rumah kawan di kompleks perumahan, kita bertanya dan dijawab “Kurang tahu” yang artinya ‘tidak tahu’. Semua itu eufemisme. Eufemisme adalah pemakaian bahasa untuk memberikan rasa menyenangkan dan tidak menampar muka lawan bicara.
Jangan dikira eufemisme cuma dalam adat kita. Bahasa Inggris pun punya sopan santun, misalnya, not very bright untuk stupid, to pass away untuk dead.
Eufemisme dipakai berlandaskan prinsip saling menghargai. Jadi, janganlah serta merta mencerca bahwa menggunakan ungkapan eufemistis itu tindakan munafik. Saat ketua RT menemui anggotanya yang kaya, ia tidak berkata: “Pak tolong kami diberi sumbangan untuk konsumsi yang kerja bakti”. Ia akan bilang: “Hari Minggu nanti ada kerja bakti, Pak Sam. Anak-anak muda biasanya perlu makan dan minum.” Pak Sam paham Pak RT minta sumbangan dan tidak memandang Pak RT munafik. Komunikasi sosial sangat memerlukan tatakrama berbahasa agar kehidupan sosial tetap stabil. Dasarnya saling menghargai. Anggota masyarakat umumnya memahami kerangka acuan penafsiran eufemisme.
Bagaimana dengan komunikasi politik? Eufemisme terkadang perlun untuk menghindari ketakberterimaan dari sasaran komunikasi. Menarik sekali untuk dikaji penggunaan ungkapan tertentu seperti penyesuaian harga-harga untuk kenaikan harga-harga di masa Orde Baru. Namun, jangan dikira di masa Reformasi gejala ini tidak terjadi. Ungkapan resmi pemekaran kecamatan berarti ‘pemecahan satu kecamatan menjadi dua’. Akan tetapi, kata pemecahan (andaikan dipakai) tidak cocok dengan kultur NKRI. Tentu saja kita tidak dilarang mengupas secara publik sebuah pernyataan eufemistis. Ini urusan demokrasi dalam politik.
Yang perlu kita pahami: eufemisme adalah bagian dari hidup bermasyarakat dan berkebudayaan berdasarkan prinsip saling menghargai. Jadi, bukan penyakit.
Kompas, 3 Nopember 2006
Eufemisme Lagi
Samsudin Berlian
Eufemisme bukan penyakit, kata Benny H. Hoed, di rubrik ini 3 Nopember lalu. Memang benar, tapi belum sepenuh kebenaran. Apakah eufemisme bagus atau tidak, penyakit atau bukan, munafik atau sopan, bergantung pada konteks dan tujuan pemakaian.
Kalau anda melayat tetangga sambil menyeletuk, “Bapakmu akhirnya keok juga,” bisa-bisa anda menyusul keok juga. Namun, apa reaksi prajurit kalau jendral mengacungkan lengan berteriak, “merdeka atau meninggal dunia!”?
Eufemisme jelas bermanfaat memuluskan komunikasi: menjaga perasaan, menunjukkan kesopanan, memberikan penghormatan dan penghargaan, dst. Begitu pula hal-hal yang dianggap kotor atau menjengahkan bisa dibicarakan dengan enak: buang air, kamar kecil, kemaluan. Agaknya tak perlu diragukan bahwa bahasa-bahasa dunia tanpa kecuali mengenal dan memelihara eufemisme.
Kadang-kadang semangat bereufemisme sangat tinggi sehingga ada kata yang tak berkonotasi negatif toh dianggap kasar. Misalnya, orang sering risi memakai kau, kamu dan kalian. Tak ada yang intrinsik salah dengan kata-kata itu. Mungkin masalah ada pada mental feodalistik yang berakar dalam. Anggaplah ini suatu indikator: demokrasi di Indonesia sudah matang kalau orang dewasa bisa baku panggil kau dan kamu tanpa rasa salah.
Eufemisme bagus kalau bertujuan menjaga perasaan orang lain. Kalau yang dilindungi ialah si penutur sendiri, eufemisme lalu berfungsi menyembunyikan kebenaran, menyesatkan orang, menutup mata terhadap kenyataan, dst. Pemakaian semacam ini bikin sebagian orang mencerca eufemisme, menganggapnya kemunafikan.
Salah satu eufemisme paling terkenal adalah sebutan Nazi Jerman untuk pembantaian sistematis jutaan orang Ibrani: final solution. Memang eufemisme sering dimanfaatkan sebagai solusi: membebaskan penutur dari beban tanggung jawab. Belum lama berselang, banyak orang memperdebatkan istilah yang dipakai Amerika untuk korban sipil di Irak: collateral damage—korban tidak sengaja. Dengan ungkapan ini, selesailah persoalan.
Ketika pejabat menolak mengakui kelaparan dan busung lapar dengan bersembunyi di balik kurang gizi, sampai orang mati tersia-sia karena pihak yang seharusnya bisa menolong tak menyadari urgensinya, bukankah eufemisme itu sendiri sudah jadi penyakit?
Bagaimana bisa tunasusila dianggap lebih sopan daripada pelacur? Memang pelacur bermakna buruk, tapi tunasusila jauh lebih buruk karena menghakimi pelacur secara moral. Alih-alih menolong mengatasi persoalan sosial ekonomi yang berat, mereka justru dihakimi sebagai orang bejat tanpa bisa banding. Pola pikir seperti itu antara lain melahirkan razia resmi hantam kromo terhadap perempuan di luar rumah saat malam. Padahal yang paling tunasusila dalam hal ini tentu germo buas pemeras orang lahir batin, pengambil untung dari keindahan dan ketidakberdayaan orang lain.
Pekerja seks komersial lebih baik, tapi tetap tak memadai sebab mengabaikan kenyataan: banyak dari mereka semula tak memilih pekerjaan itu, melainkan ditipu, dipaksa, diculik. Selama masyarakat memandang mereka perusak moral atau pedagang liar, bukan manusia yang berhak dilindungi atau dilayani alat-alat negara, eufemisme bukan hanya tak menolong. Ia memperparah keadaan: menyembunyikan kenyataan di balik kata merdu.
Kompas, Jumat, 1 Desember 2006
Comments
Post a Comment