Semiotika di hadapan Makna Tanda yang selalu berubah:
Review terhadap Artikel Robert Hodge dan Gunther Kress
Saussure and the Origin of Semiotics
Tamam Ruji H.
Sifat bahasa yang semena-mena, manasuka atau arbitrer, dan perlunya bahasa dipisahkan dari semiologi sebagaimana dicanangkan Saussure dalam Course de General Linguistic, menjadi salah satu fokus perhatian R. Hodge dan G. Kress dalam artikel Saussure and the Origin of Semiotics. Dengan berlandaskan pada pemikiran Peirce tentang semiotika sosial yang cenderung bersifat behavioristik dan positivistik (hlm. 39), dan pemikiran V.N. Volosinov tentang dimensi materi dan sosial dari tanda (hlm. 41), kedua penulis artikel jelas menempatkan posisi mereka dengan mengkritik pandangan Saussure tentang ketidak-berterimaan dan ketidak-bergunaan kesemenaan bahasa terhadap kajian semiotika, “a dogmatic assertion that sign are all and equally ‘arbitrary’ is unjustifiable and unhelpful for general semiotics” (hlm. 46).
Kendati pada satu sisi Saussure mengakui bahwa language is irreducibly a ‘social fact’ (hlm. 41), tapi pada sisi lain ia juga menegaskan perlunya memisahkan what is social from what is individual; what is essential from what is accessory and more or less accidental. Bahasa bukanlah fungsi dari pewicara (speaker); bahasa merupakan produk yang dicerna secara pasif oleh individu. Bahasa tidak pernah memerlukan pramediasi dan tindak refleksi berfungsi untuk tujuan pengklasifikasian…Sementara itu, wicara (speech) adalah suatu tindak individual. Ia disengaja dan intelektual. Di sinilah letak pemisahan antara bahasa dan wicara aktual (actual speech).
Keberagaman dan perkembangan bahasa adalah bukti kesemenaan tanda-tanda lingual, disamping luasan makna dari tanda-tanda lingual tersebut (baca: teks). Sebagaimana tanda-tanda lingual yang terus berubah, makna dari tanda-tanda lingual itu pun tentunya mengikuti perubahan, seiring waktu. Dari sudut pandang ini, mungkinkah semiotika dihadapkan dengan teks, atau tanda lingual, yang selalu berubah dan berjalan? Menurut pendapat saya, semiotika cenderung mudah membaca tanda-tanda universal, misalnya tanda-tanda alam yang sifatnya tetap dan pasti. Akan tetapi, bagaimana jika semiotika dihadapkan dengan indeks-indeks kultural yang nilai dan maknanya sangat bervariasi di dalam kehidupan masyarakat? Pada tataran ini, semiotika akan sulit memberikan pemecahan.
Dengan demikian, apakah ada titik-temu antara hubungan semiosis dengan realita? Yaitu, manakala teks dijelaskan sebagai fakta sosial yang selalu berubah, bentuk dan nilainya, apakah hasil pembacaan secara semiosis akan mampu memberikan representasi dari realitas yang dimaksud? Menurut pendapat saya, pembacaan semiotika akan lebih berguna jika pembacaan itu memandang realitas sebagai proses yang terus bergerak dan berubah.
Comments
Post a Comment