Media: Corong Elit Dominan
oleh: Tamam Ruji H.
 “Pers bebas? Pers bebas itu untuk orang yang memilikinya.” Begitu ungkap Lowell Bergman dalam salah satu adegan film The Insider. Kebebasan pers menjadi salah satu tema dominan dalam film The Insider, disamping pembohongan publik oleh perusahaan-perusahaan rokok besar, persekongkolan dan saling telikung antarkorporasi besar, dan kuasa media untuk menjadikan segalanya sebagai komoditas. The Insider adalah sebuah film yang bercerita tentang ilmuwan mantan-pekerja yang mencoba mengungkapkan rahasia-rahasia yang dia ketahui kala masih bekerja pada perusahaan rokok besar Brown & Williamson. Film yang berdasarkan kisah nyata ini berfokus pada mantan eksekutif perusahaan Jeffrey Wigand, sebagai ilmuwan mantan-pekerja yang dimaksud, dan produser program televisi CBS 60 Minutes, Lowell Bergman,
 Ketika 60 Minutes hendak menayangkan sebuah wawancara hasil investigasi tentang sejumlah kebijakan publik perusahaan rokok Brown & Williamson, pihak manajemen (baca: pemilik) CBS menyaring, jika bukan meniadakan, informasi-informasi penting yang merugikan publik yang seharusnya disingkap secara lugas. Alasan penyaringan, bahkan rencana pembatalan penyiaran wawancara, adalah desakan pelbagai kepentingan antara pemilik perusahaan CBS dan pemilik Brown & Williamson; dalam cerita film, CBS kuatir perusahaan Brown & Williamson akan menuntut kerugian yang tinggi jika wawancara itu disiarkan, sebab wawancara itu terang akan menimbulkan kerugian yang besar bagi Brown & Williamson. Pada konteks inilah jelas terlihat bahwa kebebasan pers hanya menjadi kepunyaan para cukong (baca: pemilik media).
Menonton The Insider membuat penulis mengernyit, bertanya-tanya dengan nada apatis dan pesimis tentang fungsi dan peran media sebagai jembatan dua arus informasi yang menghubungkan antarkepentingan kehidupan publik yang semakin egoistis. Permainan manipulatif yang dijalankan media, seperti tercermin dalam The Insider, kiat memperkuat justifikasi adagium “yang kuat yang menang”; ala kehidupan rimba yang tanpa hukum. Dan, jika memang demikian, benarlah apa yang dikatakan oleh Herman dan Chomsky tentang Propaganda Model, “media serves the ends of a dominant elite.”[1] Media, berdasarkan analisis Herman dan Chomsky, cenderung “to marginalize dissent and allow the government and dominant private interests to get their messages across to the public” dengan cara melakukan konstruksi-konstruksi yang hegemonik dan menindas pendapat-pendapat yang menentang.[2]
Propaganda model yang dikemukakan Herman dan Chomsky ini berfokus pada ketidak-seimbangan kekayaan dan kekuasaan dan pengaruh-pengaruhnya yang multitingkat terhadap kepentingan-kepentingan dan pilihan-pilihan media massa. Ada lima perangkat atau bahan utama yang mendasari propaganda model: pertama, ukuran, konsentrasi kepemilikan, kekayaan pemilik, dan orientasi profit dari perusahaan-perusahaan media massa yang dominan; kedua, periklanan sebagai sumber penghasilan utama media massa; ketiga, kepercayaan media terhadap informasi yang diberikan pemerintah, kalangan bisnis, dan “ahli-ahli” yang dibiayai dan diangkat oleh sumber-sumber utama informasi dan agen-agen kekuasaan; keempat, “flak[3] sebagai alat pendisiplinan media; dan kelima, “antikomunisme” sebagai agama nasional dan mekanisme pengawasan. Kelima perangkat ini saling berhubungan dan menguatkan satu sama lain.[4] Dengan kekuatan modal dan kekuasaannya, elit-elit dominan ini selalu mampu menyaring pesan-pesan yang pantas untuk disampaikan.
Berkait dengan hal ini pula lah peran negara menjadi tidak dapat diharapkan menjadi pengontrol kuasa para cukong media dan menjadi pelindung hak-hak publik untuk memperoleh informasi yang jujur. Sebab, birokrasi negara juga, terang, sangat kuat melakukan kontrol yang monopolistik dan represif terhadap media, terutama untuk menjaga kepentingannya dalam mempertahankan kekuasaan yang, dengan demikian, akan melakukan penyaringan informasi serta mengabaikan kepentingan-kepentingan publik. Sejalan pernyataan Herman dan Chomsky di atas, kedua negara dan pemilik modal lah yang menjadi penguasa media. Artinya, penguasa dan pengusaha selamanya akan menjadikan media sebagai alat penyebar kepentingannya yang sangat menindas dan, dalam keadaan yang seperti ini, media benar-benar telah menjalankan tugasnya sebagai alat pengontrol sosial; hanya saja kontrol yang dilakukan penguasa dan pengusaha terhadap masyarakat luas. Ironis.
Pada kondisi yang seperti ini, salah satu upaya untuk menegakkan dan menjamin fungsi dan peran media sebagai penyalur informasi-dua-arah yang jujur, berimbang, dan tidak manipulatif adalah dengan memperkuat tindakan afirmatif publik. Secara sendirian, publik diharapkan bergerak melakukan pelbagai upaya pengontrolan dan pengawasan untuk menjaga supaya media sungguh berdiri di atas dua kepentingan yang adil dan berimbang; penguasa dan penguasa pada satu sisi, dan masyakarat luas pada sisi yang lain.



[1] Lih. Edward Herman and Noam Chomsky, A Propaganda Model, dalam Meenakshi G. Durham and Douglas M. Kellner, Media and Cultural Studies: KeyWorks, (2006: 257).
[2] Ibid.
[3] Flak merujuk pada respon negatif terhadap pernyataan atau program media, Ibid. 275.
[4] Ibid. 257-258

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Cultural Studies??

ttg Helen Keller