Membaca Atribut Parpol
(Simulasi Media sebagai Representasi)
“Pay no attention to that man behind the curtain!”
The Wizard dari The Wizard of Oz
Pendahuluan
Menjelang Pemilu, di mana saja di seluruh penjuru tanah air, kita mudah sekali menemukan atribut-atribut partai politik (baca: parpol). Tidak di kota-kota besar dan tidak pula di pelosok-pelosok desa terpencil, tidak di jalan-jalan raya dan tidak pula di jalan-jalan setapak, atau tidak di rumah-rumah warga dan tidak pula di gedung-gedung megah, atribut-atribut parpol seolah tidak menyisakan ruang kosong lagi dan terus memenuhi ranah-ranah publik dengan mitos-mitos politik mereka. Bahkan, sungguh bukan hanya atribut parpol-parpol besar sebagai konstituen negara yang sudah lama menggoreskan tinta sejarahnya dalam membangun negeri ini, atribut parpol-parpol kecil sebagai kontestan baru pemilu pun turut ambil bagian dalam mewarnai setiap jengkal ruang-ruang negeri ini. Penulis teringat, pada Hari Raya Idul Fitri yang lalu, November 2008, ketika penulis kebetulan mudik lebaran, penggelaran dan penjamuran ranah-ranah publik dengan atribut-atribut parpol begitu kentara terlihat di mana-mana[1] di daerah asal penulis; sebuah daerah yang hampir dapat dikatakan pelosok di pedalaman Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ini, penulis rasa, adalah sebuah gejala dan fenomena umum dan sudah berjalan lama. Di Yogyakarta sendiri, misalnya, gejala dan fenomena seperti ini juga tampak kentara sekarang ini. Tidak di jalan-jalan protokol, seperti Jl. Solo, Jl. Kaliurang, Jl. Sudirman, dan Jl. Kusumanegara, bahkan di jalan-jalan kecil pun para insan parpol tidak abai untuk menggelar atribut-atributnya. Di sekitar tempat tinggal penulis, di seputaran Gowok dan Janti Bantulan, Banguntapan, Bantul jalan-jalan sempit dan gang-gang kecil sudah hampir penuh dihiasi warna atribut-atribut partai tertentu (kasus makalah ini penulis angkat dari gelaran dan jamuran atribut-atribut PDI Perjuangan dan Golkar di daerah ini).[2]
Menarik, sesungguhnya, untuk melihat dan mengkaji gejala dan fenomena ini dari perspektif kritik ilmu sosial. Yaitu, untuk mempertanyakan, jika bukan mempersoalkan, ihwal apa saja yang mendorong munculnya penjamuran atribut-atribut parpol ini pada saat menjelang pemilu; apa saja, secara filosofis, yang melatar-belakangi insan-insan parpol untuk seolah berlomba dan beradu merebut ranah-ranah publik untuk menguasainya dengan atribut-atributnya sendiri; yang bahkan seakan-akan berlomba dengan baliho-baliho-berbayar; dan, apa sebenarnya tujuan-tujuan akhir dari semua ini.
Senyatanya, secara kasatmata, orang awam pun tahu dan mengerti bahwa atribut-atribut yang disebarkan di mana-mana itu adalah semacam aktivitas beriklan atau berpromosi yang dilakukan parpol untuk menarik perhatian dan, dengan demikian, diharapkan mempengaruhi khalayak atau massa calon pemilih untuk tujuan, nantinya pada saat pemilihan umum, khalayak atau massa calon pemilih itu memilih partai yang bersangkutan; dan/atau bagi partisan partai lain, agar mengalihkan hak suaranya kepada partai pemilik atribut tersebut. Dalam kaitan ini, atribut-atribut itu menjadi salah satu media atau sarana yang digunakan parpol sebagai jalan masuk (baca: perantara atau pemediasi) ke calon-calon pemilih.
Akan tetapi, terlepas dari semua tujuan dan intensi para pemasang atribut tersebut, penulis hendak membangun suatu perhatian dan membuktikan bahwa senyatanya parpol-parpol pemasang atribut itu hendak menyatakan bahwa wilayah dan ranah tempat atribut itu dipasang dan digelar sebagai representasi suara politik dari orang-orang atau massa calon pemilih yang berdiam dan berdomisili di wilayah atau ranah yang dimaksud. Hanya saja, penulis melihat representasi yang dimaksudkan tersebut palsu dan semu. Perlu diketahui bahwa antara realitas politik yang terjadi dalam kehidupan konkret dengan realitas politik yang telah dikemas oleh media merupakan dua entitas yang tidak identik, sama sekali tidak kembar. Media memiliki kekuasaan yang sangat hegemonik dalam menghadirkan kembali realitas politik. Inilah yang disebut dengan kekuasaan media dalam menjalankan politik representasi.[3]
Mitos dan Signifikasi Atribut Parpol
Secara umum, mitos adalah sebuah kisah atau fabel yang berfungsi sebagai pedoman atau peta simbolis makna dan signifikansi dalam kosmos. Dalam Cultural Studies, konsep mitos lebih merujuk pada naturalisasi level konotatif makna (Barker, 2004: 129). Atribut adalah tanda (sign); sebuah tanda bermakna; karenanya, atribut adalah media. Artinya, atribut, penulis tegaskan, adalah sebuah media pencipta mitos (untuk memakai istilah Barthes). Sebab, atribut adalah suatu sarana atau instrumen yang digunakan untuk menyampaikan, mengenalkan, dan mempromosikan suatu “diri” (baca: makna atau mitos) kepada pihak lain. Sebagai tanda, atribut memiliki properti kualitas, karakteristik, perilaku, fitur, dan bahkan unsur tertentu.[4] Sesuatu yang hendak diciptakan oleh parpol melalui atribut-atributnya adalah makna menuju mitos. Itulah signifikansi atribut; mencipta mitos; bahkan menjadi mitos itu sendiri. Dalam kasus parpol, atribut yang memiliki ragam bentuk (antara lain, berupa bendera, umbul-umbul, baliho, spanduk, dan sticker-sticker dan, menjelang pemilu atau pada masa kampanye, ini semua mudah dan banyak ditemukan tertempel di mana-mana), tentunya, memiliki mekanisme pemaknaan sebagaimana signifikansi tanda (the signification of the sign). Semua bentuk dan jenis atribut ditujukan untuk menyampaikan pesan atau makna tertentu, yang bisa berupa pesan-pesan politik dari parpol-parpol pemilik atribut, kepada massa khalayak atau audiens. Sebagai media, atribut juga dapat dianalogikan sebagai iklan, yang fungsi utamanya, sebagaimana yang dinyatakan oleh Judith Williamson (1978: 12) adalah untuk menciptakan ‘struktur makna’ (dalam Lee, 2006: 28). Struktur makna yang dimaksud adalah nilai-nilai yang terkandung dalam suatu atribut yang, senyatanya, secara disengaja dan bertujuan diciptakan dan dikomodifikasi oleh produsen untuk dijual kepada konsumen atau audiens. Grossberg mengungkapkan bahwa the most common way of thinking about meaning is that it is representational (2006: 141). Menjelaskan makna sebagai representasional adalah dengan menyatakan bahwa setiap bahasa (atau setiap sistem makna) selalu menunjuk atau merujuk pada dunia yang diharapkan dan dianggap nyata.
Lalu, pada ruang manakah makna yang dimaksudkan dalam media menyelusup ke dalam bentuk dan jenis atribut parpol? Pada bagian lain, Grossberg mengemukakan bahwa makna hidup dalam dua ranah: the word itself and its world, kata itu sendiri dan dunianya (Ibid. 139). Akan tetapi, penegasan ini belum membawa kita pada tataran makna sebagaimana yang dimaksudkan dalam signifikasi atribut parpol; artinya, ranah makna yang dikemukakan Grossberg masih berupa tataran makna permukaan suatu ungkapan lingual. Untuk itu, penulis hendak melihat tataran makna ke ranah yang lebih dalam; yaitu ranah makna semiotika, sebagaimana yang diungkapkan oleh Roland Barthes dalam Rhetoric of the Images.[5] Melampaui cara pandang terhadap makna yang dipegang oleh kalangan linguistik formal, lewat tesis yang diajukan Barthes dalam esainya “Can analogical representation (the copy) produce true systems of signs and not merely simple agglutinations of symbols!” (1976: 32), Barthes membangun suatu kerangka untuk mengkaji hubungan kata/imej dalam iklan (dalam kasus makalah ini adalah media atribut sebagai iklan). Argumen yang dibangun adalah bahwa imej atau atribut mengandung jenis makna, denotasi dan konotasi,[6] sedangkan bahasa secara keseluruhan hanya mengandung makna konotatif. Di dalam esainya Myth Today, Barthes menyatakan bahwa makna konotasi inilah yang dinamakan “mitos”. Imej memiliki lapisan makna yang lebih banyak, dan dapat diperhatikan memiliki kedalaman makna daripada bahasa itu sendiri. Imej memungkinkan interpretasi dalam berbagai cara. Mitos atau imej juga lebih bersifat subyektif dan lebih terbuka terhadap debat kontekstual. Barthes melakukan analisisnya dengan pertama mengupas imej iklan sebab signifikasinya adalah – sebagian besar – bersifat intensional, bertujuan. “Imej ini langsung memberikan rangkaian tanda-tanda terputus. Di sinilah letak distingsi yang ditegaskan oleh Barthes. Selanjutnya, Barthes mengungkapkan,
“Now even – above all if – the image is in a certain manner the limit of meaning, it permits the consideration of veritable ontology of the process of signification. How does meaning get into the image? Where does it end? And, if it ends, what is there beyond? Such are questions that I wish to raise by submitting the image to a spectral analysis of the message it may contain.” (1976: 32-33)
Dengan pengertian lain, meskipun imej dalam kerangka tertentu memiliki batas makna, imej (atribut Parpol) memungkinkan suatu pertimbangan ontologis yang dapat dibuktikan dalam proses signifikasi. Bagaimana makna masuk ke dalam imej? Ke mana tujuan makna? Dan, kalau memiliki tujuan, apa yang akan ditemukan di sana? Demikianlah halnya dengan pengatributan-pengatributan parpol. Pengatributan adalah upaya mencipta suatu imej bermitis mitos; upaya mencipta suatu pesan ideologis dalam pengertian semiotik. Barthes menegaskan bahwa “He saw myth as serving the ideological interests of the bourgeoisie. “Bourgeois ideology... turns culture into nature.” (Barthes 1976, 206). Suatu atribut yang selalu menempel pada sebuah objek, kemelekatan itu cenderung akan dilihat sebagai alamiah. Dan, dalam tahap seperti ini makna yang sudah menaturalisasi secara demikian otomatis akan menjadi mitos. Dalam kaitan ini, apa makna dan signifikasi yang ingin disampaikan, ditujukan, dan dimaksudkan melalui pengatributan parpol, dalam hal kasus di atas? Mitos apa yang terkandung dalam pengatributan ruang-ruang di atas? Apakah kepentingan yang hendak dicapai oleh parpol dengan semua atribut-atributnya yang dijejalkan pada hampir setiap ranah publik? Jelas tampak bahwa tujuan yang hendak dibangun oleh insan-insan penyebar atribut-atribut parpol adalah untuk membangun imej/mitos tertentu tentang partai yang bersangkutan. Untuk menjelaskan posisi Barthes dalam memaknai imej (baca: atribut-atribut parpol), berikut ini penulis akan mencoba membaca atribut-atribut parpol dan signifikasinya terhadap representasi suara politik warga. Hanya saja, untuk mendekatinya, penulis terlebih dahulu membincangkan bagaimana makna tercipta, yaitu dari proses signifikasi tanda masuk ke dalam sebuah mitos. Di bawah ini adalah sebuah bagan yang menunjukkan hubungan-hubungan bagaimana tanda lingual terdeformasi ke dalam suatu bentuk mitos lewat suatu proses signifikasi.
1. Sign | 2. Signified | ||
3. Sign (Makna) I. SIGNIFIER FORM | II. SIGNIFIED CONCEPT | ||
Expression | Content | ||
Form | Substance | Form | Substance |
III. Sign SIGNIFICATION | |||
Sebagai sistem semiotik, mitos dapat diuraikan ke dalam tiga unsur, yaitu: penanda (signifier), petanda (signified), dan tanda (sign). Untuk membedakan istilah-istilah yang sudah dipakai dalam sistem semiotik tingkat pertama, Barthes menggunakan istilah berbeda untuk ketiga unsur itu, yaitu form, concept, dan signification. Dengan kata lain, form sejajar dengan signifier, concept dengan signified, dan sign dengan signification. Sebagai sistem semiotik tingkat kedua, mitos mengambil sistem semiotik tingkat pertama sebagai landasannya. Jadi, mitos adalah sejenis sistem ganda dalam sistem semiotik yang terdiri dari sistem linguistik dan sistem semiotik (Sunardi, 2002: 103-104).
Berangkat dari uraian bagan di atas inilah Barthes menganalisis sistem signifikasi atau pemaknaan. Penulis, dalam kaitan ini akan menerapkannya untuk membaca pemaknaan tanda atributif parpol PDI P dan Golkar di sekitar Janti dan Gowok. Sebagaimana yang penulis saksikan dan alami sendiri, Janti dan Gowok akhir-akhir ini sudah dipenuhi atribut-atribut parpol, baik berupa bendera, umbul-umbul, dan spanduk partai. Penulis melihat bahwa ini merupakan tanda (sign). Akan tetapi, supaya langsung membidik pada tujuan makalah ini, tanda yang akan penulis gunakan adalah tanda pada tataran kedua (warna hijau dan kuning). Dalam kaitan ini, suara politik warga PDI P dan Golkar berfungsi sebagai penanda (signifier); sedangkan seluruh atribut parpol yang bersebaran itu menduduki fungsi petanda (signified). Secara keseluruhan, ini adalah tanda. Tanda ini mensignifikasi suatu mitos atau imej. Dan, mitos atau imej ini dipandang sebagai sebuah representasi suara politik warga Janti dan Gowok. Signifikasi yang ditujukan adalah bahwa dengan tanda-tanda atribut PDI P dan Golkar itu, warga di Janti/Gowok adalah calon pemilih atau warga PDI P dan Golkar, dan bukan partai lain. Lebih jauh lagi, wilayah Janti/Gowok adalah wilayah kekuasaan PDI P dan Golkar, dan parpol lain diharapkan, jika bukan dilarang, untuk masuk ke wilayah itu. Inilah signifikasi atau pemaknaan yang dicoba dikemukakan oleh penjamuran tanda-atribut parpol di atas. Apakah benar demikian?
Kalau kita melihat dari sudut pandang pemikiran Umberto Eco, yang menegaskan “semiotika” sebagai ilmu dusta, terdapat kesan bahwa pengatributan parpol di atas juga hanyalah dusta (lie). Kesimpulan ini dapat dibuktikan lewat pernyataan Umberto Eco yang mengatakan bahwa semiotika “…pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).” Dalam semiotika, bila segala sesuatu yang dalam terminologi semiotika disebut sebagai tanda (sign), semata alat untuk berdusta, maka setiap tanda akan selalu mengandung muatan dusta; setiap makna (meaning) adalah dusta; setiap pengguna tanda adalah para pendusta; setiap proses pemaknaan (signification) adalah kedustaan. Umberto Eco menjelaskan bahwa bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya “sesuatu itu” tidak dapat pula digunakan untuk mengungkapkan kebenaran (truth): “sesuatu itu” pada kenyataannya tidak dapat digunakan untuk “mengungkapkan” apa-apa.
Hanya saja, terlepas dari pandangan Eco ini, semiotika jelas dapat membantu kita menyadari bahwa penegasan apa saja akan tampak bagi kita menjadi jelas, alamiah, universal, berterima, permanen dan yang tidak kontroversif ditimbulkan lewat cara di mana sistem-sistem tanda beroperasi dalam komunitas diskursus kita. Sebagaimana sejarawan seni Keith Mosley menyatakan bahwa:
“Semiotics makes us aware that the cultural values with which we make sense of the world are a tissue of conventions that have been handed down from generation to generation by the members of the culture of which we are a part. It reminds us that there is nothing 'natural' about our values; they are social constructs that not only vary enormously in the course of time but differ radically from culture to culture.” (Schroeder, 1998: 225)[7]
Dengan cara pandang semiotika demikian, kita dapat menjadi lebih kritis dalam memandang nilai-nilai kultural “alamiah” yang sudah mendarah-daging dalam jaring-jaring kehidupan kita. Melalui semiotika kita jadi lebih jeli untuk menilai bahwa jejaring nilai-nilai kultural yang dimaksud merupakan konstruksi sosial yang memiliki tendensi materialistis. Demikian pula, anggapan bahwa signifikasi dari gelaran dan jamuran atribut-atribut parpol merepresentasi suara politik warga Janti dan Gowok adalah suatu kebohongan, dusta, dan artifisial belaka. Senyatanya, berdasarkan pengalaman penulis sendiri yang tinggal dan hidup di antara sejumlah warga Janti dan Gowok, banyak sekali warga yang sama sekali bukan, dan benar-benar tidak akan, mewakili suara kedua parpol yang dimaksud. Banyak warga yang penulis temui sudah sangat yakin dengan pilihan partainya (yang sebagian besar partisan PKS) dan tidak akan mengubah haluannya terhadap partai PDI P dan Golkar. Dengan demikian, atribut-atribut parpol dalam suatu wilayah tertentu hanyalah sebuah mitos dan mitos itu hanya suatu upaya men-signifikasi sebuah representasi semu.
Atribut Parpol sebagai Permainan Simulasi Realitas
Kalau dipandang dari sudut pandang pemikiran Baudrillad, gelaran dan jamuran atribut-atribut parpol di atas hanyalah permainan simulasi. Yaitu, suatu kepuraan-puraan dalam memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimiliki. Gelaran dan jamuran atribut-atribut parpol di Janti dan Gowok di atas juga hanya suatu kepuraan-puraan; di mana parpol-parpol bersikap sok memiliki suara politik secara keseluruhan dari warga setempat (representasi suara politik seluruh warga) padahal sebenarnya tidak. Namun, itulah upaya media untuk mengelabui dan menciptakan suatu realitas yang artifisial. Baudrillard menyatakan bahwa media massa merupakan agen simulasi yang mampu memproduksi realitas rekaan yang tidak memiliki rujukan sama sekali. Realitas rekaan itu, parahnya, lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Sebagai umpama, kita dapat memperhatikan atribut-atribut parpol di atas sebagai iklan politik yang bercerita tentang kekuatan dan kekuasan parpol. Bukankah semua pengatributan berkandung pemaknaan representasional semacam itu tidak lebih dari penampakan-penampakan palsu yang penuh dengan bujukan? Dengan kata-katanya sendiri Baudrillard, di lain tempat, menyatakan, “The simulacrum is never that which conceals the truth – it is the truth which conceals that there is none. The simulacrum is true (1988: 166).
Bahwa pengatributan-pengatributan parpol yang merujuk pada sebuah pemaknaan yang representasional dari sikap warga, adalah permainan simulasi. Ia merupakan simulakrum; sebuah imitasi atau kopian tanpa originalitas (atau rujukan) yang di dalamnya simulasi menjadi lebih nyata dari pada kenyataan itu sendiri (Barker, 2004 :183). Tentang permaian antara simulasi dan representasi ini, Baudrillard menjelaskan, “Demikian pula terhadap simulasi, sejauh ia dibenturkan dengan representasi. Representasi bermula dari prinsip di mana tanda (sign) dan yang nyata (the real) bersifat ekuivalen (kendati ekuivalensi ini sangat Utopis, ia sangat merupakan sebuah aksioma yang fundamental). Sebaliknya, simulasi bermula dari negasi radikal tanda sebagai nilai, dari tanda sebagai pengembalian dan hukuman mati dari setiap referensi. Sementara representasi mencoba menyerab simulasi dengan manafsirkannya sebagai representasi palsu, simulasi membungkus seluruh bangunan representasi sebagai simulakrum itu sendiri” (Baudrillard, 1988: 171).
Artinya, upaya parpol-parpol untuk mewarnai ranah-ranah publik dengan warna partainya akan cenderung melahirkan suatu pemikiran bahwa ranah tersebut merupakan representasi suara politik dari publik setempat. Indikator representasi yang dimaksud ini adalah “tanda-tanda atribut” (attributing signs) yang menguasai di daerah itu. wilayah. Akan tetapi, bukan demikian halnya. Aggapan bahwa pelbagai pengatributan parpol terhadap suatu ranah menggambarkan suatu bentuk representasi, hanyalah palsu dan semu. Senyatanya, pengatributan itu hanyalah upaya media dalam merekayasa pemikiran sosial melalui simulakrum. Lebih jauh lagi, dengan cara yang sama, pakar simulakris yang keras Baudrilard, menegaskan bahwa di dalam media dan masyarakat konsumer, orang-orang terjebak dalam permainan imej, tontonan, dan simulakra, yang sangat sedikit hubungannya dengan realitas luar dan eksternal, sampai sedemikian rupa sehingga konsep-konsep realitas sosial, politik, dan bahkan realitas itu sendiri tidak lagi memiliki makna. Dan, kesadaran yang dipenuhi-media yang memikat dan mempesona seperti ini merupakan keterpukauan terhadap imej dan tontonan di dalam mana konsep makna itu sendiri (yang bergantung pada batas-batas yang stabil, struktur tetap, dan konsensus bersama) menjadi pecah. Dalam situasi zaman posmodern yang baru dan membahayakan ini, rujukan, yang berada di balik dan di luar, bersama dengan kedalaman, esensi, dan realitas semuanya menghilang lenyap, dan bersama dengan kelenyapannya, posibilitas dari semua oposisi yang potensial turut memunah. Sebagaimana simulasi berkembang, ia semakin merujuk pada dirinya sendiri: sebuah karnaval cermin-cermin yang merefleksikan imej-imej yang diproyeksikan dari cermin lain ke dalam layar televisi dan komputer yang omnipresent dan layar kesadaran, yang selanjutnya untk merujuk imej kepada gudang imej terdahulu juga diciptakan oleh cermin-cermin simulatoris. Terjebak dalam semesta simulasi, “khalayak dimandikan dengan pesan media” tanpa pesan atau makna, suatu usia massa di mana kelas menjadi hilang, dan politik jadi mati, seperti halnya mimpi besar disalienasi, liberasi dan revolusi.[8]
Senyatanya, yang terjadi sekarang ini justeru persis seperti yang ditegaskan Baudrillard: “Henceforth the masses seek spectacle and not meaning. They implode into a “silent majority,” signifying “the end of the social”.
Penutup
Penggelaran dan penjamuran atribut-atribut parpol kapan dan di mana saja hanyalah permainan simulasi. Tujuan representasi yang diklaim secara sepihak, dapat disimpulkan melalui pengatributan, senyatanya adalah upaya-upaya penciptaan mitos ideologis. Maksudnya jelas, suatu “politik pencitraan”. Melalui pendekatan semiotis Barthes dan pendekatan kritis Eco, imej-imej atau mitos-mitos ideologis yang berupaya dicitrakan lewat atribut-atribut parpol menjadi tampak seperti warna-warni kebohongan; tampak lebih seperti permainan artifisial yang tak punya makna apa-apa. Sementara, dari perspektif Baudrillard, seluruh tanda-tanda atributif parpol yang menggelar dan menjamur di suatu wilayah tertentu hanyalah simulasi media; sebuah kamuflase tanpa makna. Itulah simulakrum.
Hanya, ini tidak dapat dielakkan. Khalayak, massa calon vote-getter, masyarakat luas, baik sadar maupun tidak sadar, akan terus terseret ke permainan-permainan simulakrum yang lebih besar. Untuk itu, adalah menjadi tugas dan kewajiban intelek-intelek “pemaham” Barthes, Eco, Baudrilard, dan pakar-pakar lainnya untuk menjembatani cara pandang dalam melihat mitos-mitos ideologi yang secara intensional disusupi oleh kepentingan-kepentingan pihak tertentu.
Penyadaran, ini yang terpenting!!!!
[1] Barangkali, penulis terlalu hiperbolis dalam membahasakan gejala dan fenomena menjamur dan melubernya atribut-atribut parpol ini, tetapi ini bukan tanpa alasan, sebab penulis melihat begitu menyoloknya perbedaan penampakan dan penampilan ruang-ruang publik ini sebelum dan setelah menjelang masa kampanye.
[2] Sebagai informasi, aturan-aturan tentang mekanisme pemasangan atribut-atribut parpol berkait dengan pemilu sudah diundangkan dalam Perwal No 36 Tahun 2008 tentang pemasangan alat peraga kampanye (Sumber: Harian Kedaulatan Rakyat, Sabtu Pon 10 Januari 2009).
[3] Lukmantoro, Kekalahan Ideologi dan Kemenangan Imagologi, dalam Suara Merdeka Online, Senin, 5 April 2004
[4] Sumber: Encarta Encyclopedia 2008
[5] Pertama kali diterbitkan dalam Image, Music, Text: esai pilihan yang diterjemahkan oleh Stephen Health, Roland Barthes, Fontanta (1976).
[6] Istilah “konotasi” digunakan untuk merujuk pada asosiasi sosio-kultural dan personal (ideology, emosional, dll) dari tanda (sign). Ini khususnya berhubungan dengan kelas, usia, gender, etnisitas dari interpreter. Konotasi tanda lebih bersifat polisemis – lebih terbuka terhadap interpretasi – dibandingkan dengan denotasi. Denotasi kadangkala dipandang sebagai sebuah kode digital dan konotasi sebagai sebuah kode analogi dalam konotasinya (dalam Wilden 1987, 224, dalam http//:www.aber.ac.uk/media).
[7] Dikutip dari http//:www.aber.ac.uk/media
[8] Baudrillard, Jean. Dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, http://plato.stanford.edu
First published Fri Apr 22, 2005; substantive revision Wed Mar 7, 2007
Comments
Post a Comment