Ttg Simbol dan Tanda


                 Simbol:
Sumber dan Basis
Perilaku Manusia
*      Leslie A. White[1]
I
Pada bulan Juli, 1939, sebuah perhelatan diselenggarakan di Leland Stanford University untuk memperingati ulang tahun keseratus sebuah penemuan penting. Penemuan itu menyangkut sebuah pembuktian tentang sel sebagai unit terkecil jejaring otot semua mahluk hidup. Baru sekarang ini kita menyadari dan mengerti bahwa simbol merupakan unit terkecil tiap perilaku dan peradaban manusia.
Semua perilaku manusia bermula dari penggunaan simbol. Simbol lah yang mengubah nenek moyang antrofoid manusia menjadi manusia dan menjadikannya manusiawi. Seluruh peradaban dilahirkan, dan dihidupkan, hanya dengan penggunaan simbol. Simbol lah yang mengubah bayi homo sapiens menjadi seorang manusia; si gagu bisu yang tumbuh tanpa menggunakan simbol bukanlah manusia. Manusia terdiri atas, atau bergantung pada, penggunaan simbol. Perilaku manusia adalah perilaku simbolik; perilaku simbolik adalah perilaku manusia. Simbol merupakan semesta manusia.
II
Darwin menyatakan bahwa “dalam hal kemampuan mental, tidak ada perbedaan mendasar antara manusia dengan hewan-mamalia yang derajatnya lebih tinggi,” bahwa perbedaan di antara keduanya hanya pada “kekuatan manusia yang lebih besar dan hampir tidak terbatas untuk secara bersamaan mengasosiasikan beragam bunyi dan ide” (Bab III, The Descent of Man). Jadi, perbedaan antara akal manusia dan akal hewan menyusui hanya satu tingkat, dan perbedaan itu tidak “mendasar.”
Pada hakekatnya, pandangan yang sama juga dikemukakan oleh sejumlah pemerhati perilaku manusia abad terakhir ini. Profesor Ralph Linton, seorang antropolog, menulis dalam The Study of Man:[2] “Perbedaan antara manusia dan binatang dalam segala [perilaku] hal sangat besar, tetapi perbedaan itu tampaknya lebih pada perbedaan kuantitas dan bukan kualitas,” (hlm. 79; pokok pikiran yang sama juga dinyatakan pada hlm. 68). “Perilaku manusia dan binatang tampaknya memiliki banyak kesamaan,” Profesor Linton menunjukkan, “bahwa jurang [di antara keduanya] bisa jadi tidak terlalu lebar,” (hlm. 60). Dr. Alexander Goldenweiser, juga seorang antropolog, meyakini bahwa “Dari sudut pandang psikologi semata, sebatas pikiran, manusia sama sekali tidak lebih daripada hewan yang berbakat” dan “bahwa perbedaan antara mentalitas [seekor kuda dan seekor orang utan] dan mentalitas manusia hanya berselisih satu tingkat.”[3]
 Bahwa adanya kesamaan yang besar dan mengesankan di antara perilaku manusia dan perilaku monyet tampak jelas; bahkan mungkin saja orang utan yang kita temukan di kebun binatang mengetahui dan menyadari kesamaan-kesamaan itu. Lebih nyatanya lagi ialah kesamaan perilaku manusia dengan sejumlah jenis binatang lainnya. Demikian pula, namun tidak mudah menjelaskannya, adalah perbedaan perilaku yang membedakan manusia dengan semua mahluk hidup lainnya. Saya mengatakan “jelas” karena bagi orang awam tampak jelas bahwa hewan nonmanusiawi yang biasa bergaul dan kenal dengan manusia, benar-benar tidak bisa masuk dalam, ambil bagian dalam, dunia di tempat mana binatang itu, sebagaimana halnya manusia, hidup. Tidak mungkin seekor anjing, kuda, burung, atau bahkan seekor kera, memiliki suatu pemahaman tentang makna tanda salib orang Kristen, atau kenyataan bahwa warna hitam (warna putih di kalangan orang-orang China) menandakan perkabungan. Akan tetapi, ketika para ilmuwan mencoba menjelaskan perbedaan mental antara binatang dan manusia mereka kadang-kadang menemukan kesulitan yang tidak dapat diatasi dan ujung-ujungnya mengatakan bahwa perbedaan itu hanya satu tingkat: manusia memiliki otak yang lebih besar, “kekuatan asosiasi yang lebih besar,” jumlah aktivitas yang lebih luas, dan lain-lain.[4]
Ada sebuah perbedaan yang mendasar di antara otak manusia dan otak non-manusia. Perbedaan itu satu jenis, bukan satu tingkat. Dan, jurang di antara kedua jenis itu sangat penting—setidaknya bagi ilmu perilaku komparatif. Manusia menggunakan simbol; tidak ada mahluk lain yang menggunakannya. Ada manusia yang menggunakan simbol dan ada juga yang tidak; di situ tidak ada tahapan-tahapan intermediasi.
III
Simbol adalah sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan oleh orang-orang yang menggunakannya. Saya mengatakan “sesuatu” karena simbol bisa saja memiliki beragam bentuk fisik; simbol bisa berbentuk objek materi, warna, bunyi, aroma, gerak objek, atau rasa indrawi.
Makna, atau nilai, sebuah simbol sama sekali berasal dari atau ditentukan oleh properti instrinsik bentuk fisiknya: warna yang tepat untuk suasana berkabung bisa saja kuning, hijau, atau warna lainnya; warna lembayung/ungu tidak mesti warna kebesaran kerajaan; di kalangan penguasa Manchu China warna kerajaan ialah kuning. Makna kata “see” (melihat) bukanlah properti instrinsik fonetis (atau piktorial). Dengan “biting one’s thumb at[5] seseorang barangkali bermaksud menyatakan suatu hal. Makna simbol berasal dari dan ditentukan oleh organisme yang menggunakannya; makna diberikan organisme manusia terhadap bentuk-bentuk fisik yang kemudian menjadi simbol.[6]
Semua simbol pasti memiliki bentuk fisik; jika tidak, simbol tidak akan bisa masuk ke dalam pengalaman kita.[7] Namun, makna sebuah simbol tidak bisa dipahami lewat indrawi. Seseorang tidak bisa menentukan arti x dalam sebuah persamaan matematis jika hanya memandangnya saja; seseorang tidak dapat mengetahui secara pasti nilai simbolik gabungan fonetis si jika hanya menggunakan pendengarannya; seseorang tidak dapat menghargai seekor babi dengan emas semata dengan menimbang berat babi itu; seseorang tidak dapat menentukan panjang gelombang sebuah warna untuk mengetahui apakah warna itu berarti keberanian hati atau kepengecutan, “berhenti” atau “jalan terus”; juga, seseorang tidak bisa menemukan roh sebuah jimat berdasarkan sejumlah pengujian fisika atau kimiawi. Makna sebuah simbol dapat dikomunikasikan hanay dengan alat simbolik, biasanya artikulasi wicara.
Namun sesuatu yang dalam satu konteks merupakan simbol, di dalam konteks lain, bukanlah simbol tetapi tanda. Jadi, sebuah kata menjadi simbol hanya ketika kita memperhatikan perbedaan antara makna dan bentuk fisiknya. Perbedaan ini harus dibuat ketika kita memberikan nilai terhadap sebuah kombinasi-bunyi atau ketika nilai yang sudah dilekatkan sebelumnya ditemukan untuk pertama kalinya; kombinasi-bunyi itu mungkin saja dibuat pada waktu lain untuk tujuan tertentu. Akan tetapi setelah sebuah nilai diberikan, atau ditemukan dalam, sebuah kata, maknanya menjadi dikenali, dalam penggunaan, dengan bentuk fisiknya. Kata itu kemudian berfungsi sebagai tanda[8] dan bukan sebagai simbol. Maknanya kemudian dapat dipahami dengan indrawi. Kenyataan bahwa sesuatu bisa menjadi simbol dan (dalam satu konteks) dan nonsimbol (dalam konteks lain) sekaligus dapat menimbulkan kebingungan dan kesalahpahaman.
Demikianlah Darwin mengatakan, “bahwa yang membedakan manusia dengan binatang berderajat lebih rendah bukanlah pemahaman terhadap artikulasi bunyi, karena sebagaimana yang sudah setiap orang ketahui, anjing mengerti sejumlah kata dan kalimat,” (Bab III, The Descent of Man).
Tentunya benar bahwa anjing, kera,[9] kuda, burung, dan barangkali mahluk lainnya yang derajatnya lebih rendah dalam skala evolusi, dapat diajarkan untuk merespon perintah suara dengan cara yang spesifik. Namun, hal ini tidak sama dengan kenyataan bahwa tidak adanya perbedaan antara makna kata dan kalimat bagi seorang manusia dan seekor anjing. Kata merupakan tanda dan sekaligus simbol bagi manusia; sementara itu hanya sebagai tanda terhadap anjing. Marilah kita menganalisis situasi stimulus dan respon suara tersebut.
Seekor anjing dapat diajarkan untuk berguling dengan perintah “Roll over!” (Berguling). Seorang manusia juga dapat diajarkan untuk berhenti dengan perintah “Halt!” (Berhenti). Kenyataan bahwa seekor anjing dapat diajarkan untuk berguling dengan perintah bahasa China, atau kenyataan bahwa anjing itu dapat diajarkan untuk “go fetch” (mengambil) dengan perintah “roll over” (berguling) (dan tentu saja hal sama juga sangat dimungkinkan terhadap manusia) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang perlu dan tidak berubah-ubah antara kombinasi bunyi tertentu dengan suatu reaksi bunyi tersebut. Anjing atau manusia dapat diajarkan untuk merespon berdasarkan cara tertentu terhadap kombinasi bunyi apa saja yang dipilih secara sembarang, misalnya, kelompok suku kata yang tidak memiliki arti, yang diciptakan untuk tujuan yang dimaksud. Pada sisi lain, apa saja yang memiliki jumlah dan macam respon dapat dimunculkan oleh sebuah stimulus yang ada. Jadi, sejauh asal-usul hubungan antara stimulus dan respon suara berkait, yaitu hakekat hubungan itu, makna stimulus tidak ditentukan oleh properti instrinsik stimulus yang dimaksud.
Akan tetapi, sekali hubungan itu terbangun di antara stimulus suara dan respon, makna stimulus tersebut dikenal lewat bunyi itu; lalu seolah-olah makna tersebut menjadi bagian yang instrinsik dengan bunyi itu. Jadi, “halt” (berhenti) tidak memiliki makna yang sama dengan “hilt” atau “malt.” Seekor anjing bisa saja dikondisikan untuk merespon dengan cara yang tertentu terhadap panjangnya gelombang bunyi yang diterima. Dengan mengubah pola bunyi seadanya dan respon itu tidak akan muncul lagi. Makna stimulus tersebut telah diidentifikasi berdasarkan bentuk fisiknya; nilainya dipahami melalui alat indrawi.
Begitulah kita melihat bahwa dalam membangun suatu hubungan antara sebuah stimulus dan respon properti instrinsik dalam stimulus tersebut tidak menentukan hakekat respon. Akan tetapi, setelah hubungan yang dimaksud terbangun, makna stimulus itu seolah-olah telah melekat di dalam bentuk fisiknya. Itu tidak akan membuat perbedaan apapun kombinasi fonetis yang kita pilih untuk membangkitkan respon dalam memberhentikan daya penggerak-diri (self-locomotion). Kita dapat mengajari anjing, kuda, atau orang untuk berhenti pada perintah suara mana saja yang kita inginkan. Tetapi sekali hubungan itu terlah terbangun di antara bunyi dan respon, makna stimulus itu diidentifikasi berdasarkan bentuk fisiknya dan, dengan demikian, dapat dipahami melalui alat indrawi.
Sejauh ini kita menemukan tidak ada perbedaan di antara anjing dan manusia; keduanya tampak sangat mirip. Dan begitulah situasinya sejauh yang kita kaji. Akan tetapi, kita masih belum mencerikan seluruh kisahnya. Tidak ada perbedaan di antara anjing dan manusia dapat ditemukan sejauh dalam hal belajar merespon secara tepat terhadap stimulus suara. Tetapi kita mestinya tidak membiarkan sebuah kemiripan yang mengesankan menyembunyikan sebuah perbedaan yang penting. Seekor lumba-lumba belumlah dapat dikatakan sebagai seekor ikan.
Manusia berbeda dengan anjing—dan semua mahluk lainnya—yang dalam mana manusia bisa dan benar-benar memainkan peran aktif dalam menentukan nilai apa yang dimiliki stimulus suara, sedangkan anjing tidak bisa. Sebagaimana John Locke secara cerdas menyatakannya, “Semua bunyi [yaitu, bunyi dalam bahasa]... memiliki signifikasinya sendiri yang muncul dari imposisi manusia yang berubah-ubah.” Anjing tidak dan tidak bisa memainkan peran aktif dalam menentukan nilai dari stimulus suara. Apakah ia akan berguling atau mengambil menurutkan stimulus yang diterima, atau apakah stimulus untuk berguling merupakan sebuah kombinasi bunyi atau lainnya adalah persoalan yang tidak “dikomentari” oleh anjing itu. Ia memainkan sebuah peran yang sangat pasif dan tidak bisa melakukan hal lainnya. Ia mempelajari makna perintah suara persis sebagaimana kelenjar ludahnya belajar merespon terhadap dentang lonceng. Akan tetapi manusia memainkan sebuah peran aktif dan dengan demikian merupakan seorang pencipta (kreator). Biarlah nilai x sama dengan tiga pon batu bara atau nilai itu benar-benar sama dengan tiga pon batu bara; biarlah pelepasan topi di sebuah rumah ibadah menunjukkan rasa hormat dan memang sedemikian. Kemampuan yang kreatif ini, kemampuan yang bebas, aktif, dan sewenang-wenang memberi nilai terhadap sesuatu, merupakan salah satu yang paling umum dan juga yang paling khas yang dimiliki manusia. Anak-anak menggunakannya secara bebas dalam permainannya: “Ayo kita berpura-pura batu ini seekor serigala.”
Dengan begitu perbedaan antara manusia dengan binatang lainnya adalah bahwa binatang yang derajatnya lebih rendah dapat menerima nilai-nilai baru, dapat memperoleh makna-makna baru, tetapi tidak bisa menciptakannya. Hanya manusia yang bisa melakukan itu. Memakai analogi yang kasar, binatang yang derajatnya lebih rendah seperti seorang yang hanya memiliki sarana penerima pesan nirkabel: dia dapat menerima pesan tetapi tidak bisa mengirimkannya. Manusia bisa melakukan keduanya. Dan, perbedaan ini adalah satu jenis, bukan satu tingkat: seorang mahluk ciptaan dapat “secara bebas menentukan signifikasi,” menggunakan istilah Locke, dapat juga menciptakan dan memberikan nilai-nilai, atau dia tidak bisa. Di situ tidak ada tahapan intermediasi.[10] Perbedaan itu tampaknya tipis, tetapi, sebagaimana pernah dikatakan seorang tukang kayu kepada William James pada saat membincangkan perbedaan-perbedaan di antara manusia, “perbedaan itu sangat penting.” Seluruh eksistensi manusia bergantung pada perbedaan perbedaan yang tipis itu dan hanya itu.
Kebingungan menyangkut hakekat kata dan signifikasinya kepada manusia dan binatang yang derajatnya yang lebih rendah tidak sulit untuk dipahami. Kebingungan itu, pertama-tama, muncul dari sebuah kegagalan dalam membedakan antara dua konteks yang agak berbda di dalam mana kata berfungsi. Pernyataan “Makna sebuah kata[11] tidak dapat dipahami denan alat indrawi,” dan “Makna sebuah kata dapat dipahami dengan alat indrawi,” meskipun bertentangan, bagaimanapun juga sam-sama benar. Berdasarkan konteks simbol makna tersebut tidak dapat dipahami dengan alat indrawi; sebaliknya makna itu dapat dipahami jika berdasarkan konteks tanda. Ini cukup membingungkan. Akan tetapi keadaan itu lebih buruk lagi dengan menggunakan kata “simbol” dan “tanda” sebagai label, bukan konteks yang berbeda, tapi satu dan hal yang sama: kata. Dengan begitu sebuah kata adalah simbol dan tanda, dua hal yang berbeda. Sedemikian ini sama dengan mengatakan vas bunga adalah doli dan kana—dua hal yang berbeda—karena benda ini dapat berfungsi dalam dua konteks, estetika dan komersial.[12]
Bahwa yang mana yang merupakan simbol dalam konteks originasi menjadi sebuah tanda dalam penggunaannya di kemudian hari. Sesuatu bisa jadi tanda atau simbol bagi manusia; tetapi sesuatu bisa jadi hanya menjadi tanda bagi mahluk ciptaan lainnya.
IV
Sesungguhnya sangat sedikit yang diketahui tentang basis organis kemampuan simbolik: kita hanya sedikit mengetahui neurologi penyimbolan.[13] Dang sangat sedikit jumlah ilmuan—anatomis, neurolog, antropolog fisik—yang tampak tertarik terhadap persoalan ini. Sebagian, senyatanya, tampak tidak menyadari eksistensi persoalan sedemikian. Beban dan tugas untuk memberikan perhatian terhadap basis organis penyimbolan bukan berada di bidang sosiolog ataupun antropolog budaya. Sebaliknya, dia seharusnya secara cermat melihatnya tidak relevan dengan persoalan dan ketertarikannya; mencanangkannya hanya akan menimbulkan kebingungan. Cukuplah bagi sosiolog atau antropolog budaya untuk menerima kemampuan menggunakan simbol, yang hanya dimiliki oleh manusia, sebagai sesuatu yang ada atau diterima. Kegunaan terhadap mana dia menempatkan fakta ini sama sekali tidaklah dipengaruhi olehnya, atau bahkan oleh ketidakmampuan anatomis untuk menjelaskan proses simbolik berdasarkan kerangka neurologis. Akan tetapi, akan sangat berguna bagi kalangan ilmuan sosial untuk mengenal sekelumit yang diketahui kalangan neurolog dan anatomis tentang basis struktural “penyimbolan.” Kita, dengan demikian, secara singkat meninjau fakta-fakta yang sangat relevan di sini.
Kalangan anatomis belum mampu menemukan mengapa manusia bisa menggunakan simbol sementara orang utan tidak bisa. Sejauh yang diketahui satu-satunya perbedaan antara otak manusia dan otak seekor orang utan ialah perbedaan kuantitatif: “... manusia tidak memiliki jenis-jenis baru jaringan otak atau hubungan jaringan otak” (A. J. Carlson, op.cit). Manusia juga tidak, berbeda dengan binatang lainnya, memiliki “mekanisme-simbol” yang khusus.” Yang disebut area otak untuk kemampuan wicara jangan disamakan dengan penyimbolan. Akan tetapi, penyimbolan tidak bergantung pada organ-organ ini. Seseorang dapat saja menyimbolkan dengan jemari, kaki, atau dengan bagian tubuh mana saja yang dapat digerakkan sewaktu-waktu.[14]
Jelasnya, kemampuan simbolik lahir ke dalam eksistensinya lewat proses alamiah evolusi organis. Dan kita cukup memiliki alasan untuk percaya bahwa titik suara, jika bukan titik lokusnya, dari kemampuan ini berada di dalam otak, khususnya otak depan. Otak manusia jauh lebih besar daripada otak orang utan, baik secara mutlak maupun relatif.[15] Dan otak depan manusia khususnya berukuran besar dibandingkan dengan otak depan orang utan. Nah, di dalam banyak situasi kita mengetahui bahwa perubahan-perubahan kuantitatif melahirkan perbedaan kualitatif. Air berubah menjadi uap dengan menggunakan kuantitas panas tambahan. Kekuatan dan kecepatan tambahan menaikkan pesawat dari landasan dan mengubah daya-penggerak bumi (terrestrial locomotion) untuk penerbangan. Perbedaan antara alkohol kayu dan alkohol beras merupakan ekspresi kualitatif dari sebuah perbedaan kuantitatif berdasarkan proporsi karbon dan hidrogen. Dengan demikian pertumbuhan yang nyata terhadap ukuran otak manusia mungkin saja menimbulkan sebuah jenis fungsi yang baru.
V
Semua kebudayaan (peradaban) bergantung pada simbol. Penggunaan kemampuan simboliklah yang melahirkan kebudayaan dan penggunaan simbollah yang menghidupkan kebudayaan. Tanpa simbol maka kebudayaan takkan pernah lahir, dan manusia hanya akan menjadi binatang, bukan wujud manusiawi.
Artikulasi wicara merupakan bentuk ekspresi simbolik yang terpenting. Jika kita menghilangkan wicara dari kebudayaan apa yang akan tersisa? Marilah kita perhatikan.
Tanpa artikulasi wicara kita tidak akan memiliki organisasi sosial yang human (manusiawi). Kita barangkali memiliki keluarga, tetapi bentuk organisasi ini tidaklah aneh bagi manusia; bentuk ini tidaklah per se, human. Akan tetapi kita seharusnya tidak memperoleh larangan untuk inses, tidak ada aturan untuk menentukan eksogami dan endogami, poligami atau monogami. Bagaimana perkawinan dengahn sepupu silang dapat ditentukan, perkawinan berdasarkan hubungan sepupu paralel ditentukan, tanpa artikulasi wicara? Bagaimana aturan-aturan yang melarang pasangan plural tetapi memungkinkannya jika hanya memiliki satu pasangan dalam satu waktu, akan ada tanpa artikulasi wicara?
Tanpa artikulasi wicara kita tidak akan memiliki organisasi politik, ekonomi, eklesiatik, atau militer; tidak akan memiliki aturan etiket atau etika; tidak ada hukum; tidak ada ilmu; agama, atau literatur; tidak ada permainan atau musik, kecuali pada tingkatan orang utan. Ritual dan parafernalia seremonial akan tanpa makna tanpa artikulasi wicara. Sesungguhnya, tanpa artikulasi wicara kita benar-benar tanpa sarana: kita hanya akan mempunyai penggunaan sarana yang tanpa arti seperti yang sekarang ini kita lihat pada diri orang utan, karena artikulasi wicaralah yang mengubah penggunaan-sarana orang utan yang nonprogresif menjadi progresif, penggunaan-sarana manusia yang kumulatif, sebagai wujud manusiawi.
Singkatnya, tanpa komunikasi simbolik dalam berbagai bentuk, kita tidak akan memiliki kebudayaan. “Di dalam Katalah permulaan” kebudayaan—dan kelangsungan hidupnya sekaligus.[16]
Lebih jelasnya, melalui seluruh kebudayaannya manusia masih menjadi binatang dan berjuang demi tujuan yang sama dengan yang diperjuangkan mahluk-mahluk hidup lainnya: untuk pelestarian individual dan kelangsungan hidup ras itu. Dengan istilah yang konkret tujuan-tujuan itu antara lain makanan, perlindungan dari cuaca, pembelaan diri dari musuh, kesehatan, dan melanjutkan keturunan. Kenyataan bahwa manusia berjuang demi tujuan-tujuan itu yang persis seperti yang dilakukan binatang lainnya, tidak diragukan, telah membuat sejumlah orang menyatakan bahwa “tidak ada perbedaan yang mendasar antara perilaku manusia dan perilaku binatang.” Akan tetapi manusia sesungguhnya berbeda, bukan dalam tujuan, tetapi dalam cara. Cara manusia ialah cara kebudayaan: kebudayaan hanyalah cara hidup binatang manusiawi. Dan, karena cara ini, kebudayaan, bergantung pada sebuah kemampuan yang hanya dimiliki manusia sendiri, kemampuan untuk menggunakan simbol, perbedaan antara perilaku manusia dan perilaku semua mahluk lainnya tidaklah besar, tetapi basis dasar dan fundamental.
VI
Perilaku manusia terdiri atas dua jenis: simbolik dan nonsimbolik. Manusia menguap, melonggarkan badan, mengeluarkan batuk, menggaruk badan, berteriak kesakitan, bersembunyi dalam ketakutan, “meremang” menahan amarah, dan seterusnya. Perilaku nonsimbolik jenis ini tidaklah aneh bagi manusia; manusia berbagi perilaku ini tidak hanya dengan primata lainnya tetapi juga dengan spesies binatang lainnya. Akan tetapi manusia berkomunikasi dengan sesamanya dengan artikulasi wicara, menggunakan jimat, mengakui dosa, menetapkan hukum, mengawasi kode etiket, menggambarkan mimpi-mimpinya, menggolong-golongkan anggota keluarganya berdasarkan kategori yang ditandai, dan seterusnya. Jenis perilaku ini unik; hanya manusia yang mampu melakukakannya. Perilaku ini aneh bagi manusia karena perilaku ini terdiri atas, atau bergantung pada, penggunaan simbol-simbol. Perilaku nonsimbolik manusia adalah perilaku manusia yang binatang (biadab); perilaku simbolik adalah perilaku manusia yang manusiawi.[17] Simbollah yang mengubah manusia dari binatang belaka menjadi binatang manusiawi.
Oleh karena simbollah yang menjadikan jenis manusia manusiawi, maka demikianlah dengan masing-masing anggota ras tersebut. Seorang bayi bukanlah manusia sejauh perilakunya yang dipersoalkan. Hingga bayi itu memperoleh wicara tidak ada apa pun yang membedakan perilakunya secara kualitatif dengan perilaku bayi orang utan.[18] Bayi menjadi manusia ketika dan seiring dengan dia belajar menggunakan simbol. Hanya dengan alat wicaralah bayi bisa masuk dan mengambil peran dalam hubungan manusia yang manusiawi. Pertanyaan yang kita ajukan sebelumnya dapat diulangi lagi. Bagaimana anak yang sedang tumbuh tahu tentang hal-hal seperti keluarga, etiket, moral, hukum, ilmu pengetahuan, filsafat, agama, perdagangan, dan seterusnya, tanpa wicara? Kasus aneh dari anak-anak yang tumbuh tanpa simbol karena ketulian dan kebutaan, seperti kasus Laura Bridgman, Helen Keller, dan Marie Heurtin, mengandung pelajaran. Hingga mereka “memperoleh pengertian” tentang komunikasi simbolik mereka belumlah manusia, tetapi binatang; mereka tidak memiliki andil dalam perilaku yang aneh bagi manusia. Mereka berada “di dalam” masyarakat manusiawi sebagaimana halnya anjing, tetapi mereka bukan bagian dari masyarakat manusiawi. Dan, meskipun penulis secara berlebihan bersikap skeptis tentang berita yang dikenal dengan manusia-serigala, manusia buas, dan lain-lain, kita dapat mencatat bahwa mereka dapat digambarkan, hampir tanpa pengecualian, sebagai yang tidak memiliki kemampuan wicara, “liar,” dan “tidak manusiawi.”
VII
Ringkasan. Proses alamiah evolusi organis melahirkan dalam diri manusia, dan hanya manusia, sebuah kemampuan yang baru dan berbeda: kemampuan untuk menggunakan simbol. Bentuk ekspresi simbolik yang terpenting adalah artikulasi wicara. Artikulasi wicara berarti komunikasi ide; komunikasi berarti pelestarian—tradisi—dan pelestarian berarti akumulasi dan progres. Kemunculan kemampuan organis penggunaan-simbol telah menghasilkan genesis tatanan fenomena yang baru: tatanan superorganis, kebudayaan. Semua peradaban lahir dari, diabadikan dengan, simbol. Sebuah kebudayaan, atau peradaban, hanyalah jenis khusus bentuk (simbolik) yang dipikul oleh aktivitas-aktivitas pelestarian-hidup biologis binatang istimewa, manusia.
Perilaku manusia adalah perilaku simbolik; jika bukan simbolik berarti bukan manusia. Bayi homo genus menjadi seorang manusia hanya setelah dia diperkenalkan ke dalam dan berandil dalam tatanan fenomena superorganis yang adalah kebudayaan. Dan kunci menuju dunia ini dan cara berandil di dalamnya adalah—simbol.



[1] Leslie A. White (1900 -      ) adalah seorang profesor antropologi di Universitas Michigan. Tulisan ini diambil dari buku The Science of Culture (1949).
[2] (New York, 1936)
[3] Anthropology (New York, 1937), hlm. 39.
[4] Kita sudah memiliki sampel yang baik tentang persoalan ini yang dinyatakan oleh seorang fisiolog terkenal, Anton J. Carlson. Setelah mengkaji “pencapaian mutakhir manusia dalam ilmu pengetahuan, seni (termasuk seni orasi), institusi politik dan sosial,” dan mencatat “pada waktu yang sama kekurangan yang nyata perilaku sedemikian dalam perilaku binatang lainnya,” dia, sebagai manusia biasa, “tertantang untuk menyimpulkan bahwa berdasarkan kapasitas tersebut, setidaknya, manusia memiliki superioritas kualitatif atas binatang menyusui lainnya” (“The Dynamics of Living Processes,” dalam The Nature of the World and Man, H. H. Newman, ed. [Chicago, 1926], hlm. 477). Akan tetapi, oleh karena, sebagai seorang ilmuan, Profesor  Carlson tidak dapat menjelaskan perbedaan kualitatif ini antara manusia dan binatang lainnya, oleh karena sebagai seorang fisiolog dia tidak dapat menerangkannya, dia menolak untuk mengakuinya—“... fisiolog tidak dapat menerima kemajuan pesat artikulasi wicara dalam diri manusia sebagai sesuatu yang baru secara kualitatif...” (hlm. 478)—dan mencanangkan tanpa pengharapan bahwa suatu hari kita barangkali akan menemukan beberapa “batu bangunan” yang baru, sebuah “tambahan ion lipoid, fosfat, atau potasium,” di dalam otak manusia yang akan menjelaskannya, dan menyimpulkan dengan mengatakan bahwa perbedaan antara akal manusia dan akal non-manusia “barangkali hanya satu tingkat,” op. cit., hlm 478-479).
[5]Do you bite your thumb at us, sir?”—Romeo and Juliet, I, 1.
[6] “Dengan demikian, oleh karena bunyi tidak memiliki hubungan yang alamiah dengan pikiran-pikiran kita, tetapi seluruh signifikasinya berasal dari imposisi manusia…,” John Locke, Essay Concerning the Human Understanding, Buku III, bab 9.
                “Ketika saya menggunakan...[sebuah] kata, kata itu persis seperti arti yang saya kehendaki maksudnya,” kata Humpty Dumpty kepada Alice (Through the Looking Glass).
[7] Pernyataan ini sah tanpa menyampingkan teori tentang pengalaman yang kita pahami. Sekalipun eksponen-eksponen terhadap Persepsi Ekstra-Indrawi, kelompok yang menentang diktum Locke bahwa “pengetahuan tentang eksistensi sesuatu yang lain apa saja [selain daripada diri kita sendiri dan tuhan] yang hanya kita peroleh melalui sensasi,” (Essay Concerning the Human Understanding, buku IV, bab 11) telah menjadi wajib dilakukan dengan bentuk-bentuk fisik lebih daripada bentuk-bentuk yang sangat halus.
[8] Tanda merupakan bentuk fisik yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu yang lain—objek, kualitas, atau peristiwa. Makna sebuah tanda bisa instrinsik, tidak dapat dipisahkan dari bentuk dan watak fisiknya, sebagaimana dalam kasus tinggi sebuah kolom air raksa sebagai sebuah petunjuk temperature; atau, tanda bisa saja hanya dapat diidentifikasi dengan bentuk fisiknya, sebagaimana dalam kasus penanda badai yang dilaporkan oleh biro cuaca. Akan tetapi, dalam kedua kasus itu, makna tanda itu dipahami dengan alat indrawi.
[9] “Sungguh mengejutkan, sudah sangat jelas bahwa selama bulan-bulan pertamanya kera tampaknya lebih superior daripada seorang anak kecil dalam merespon kata-kata manusia,” W. N. dan L. A. Kellogg, The Ape and the Child (New York, 1933).
[10] Profesor Linton berbicara tentang “bayangan bahasa yang paling muram…pada tingkatan binatang,” (op., hlm. 74). Akan tetapi apa tepatnya yang disebut dengan “bayangan yang paling muram” ini dia tidak menyebutkan.
[11] Seperti sebuah kata, nilai sebuah vas dapat dipahami dengan alat indera atau tidak dapat dipahami melalui indera bergantung pada konteks di dalam mana benda itu dipandang. Berdasarkan konteks estetika nilainya dipahami dengan alat indera. Berdasarkan konteks komersial nilai seperti itu tidak mungkin; kita harus dikasihtahu nilainya—terkait dengan harga.
[12] Yang harus kita nyatakan di sini, tentunya, bermaksud sama dengan terhadap isyarat (misalnya, “tanda Salib,” sebuah ucapan salut), warna, objek material, dan lain-lain.
[13] Bab “A Neurologist Makes Up His Mind,” oleh C. Judson Herrick, Scientific Monthly (August, 1939). Profesor Herrick adalah salah satu yang terbaik di antara tidak begitu banyak ilmuan yang tertarik pada basis structural penggunaan symbol.

[14] Kesalahkaprahan pemikiran bahwa wicara bergantung pada apa yang disebut (tetapi dikelirusebutkan) organ wicara, dan lantas, bahwa manusia secara sendirian memiliki organ-organ yang cocok untuk wicara, sudah tidak lazim lagi bahkan sekarang ini. Demikianlah Profesor L. L. Bernard mendaftar “aset organis besar keempat manusia adalah alat suaranya, juga menjadi ciri khas manusia itu sendiri,” (Introduction to Sociology, J. Davis and H. E. Barnes, eds. [New York, 1927] hlm. 399).
                Kera besar memiliki mekanisme yang dibutuhkan untuk menghasilkan artikulasi bunyi: “Bunyi itu tampaknya sudah sangat terbangun yang mana mekanisme motorik suara dalam diri kera ini [orang utan] mencukupi bukan hanya untuk menghasilkan ragam bunyi yang besar, tetapi juga untuk menghasilkan artikulasi tertentu seperti yang dihasilkan oleh manusia,” (R. M. dan A. W. Yerkes, The Great Apes (New York, 1929) hlm. 301. Juga: “Semua kera antrofoid diperlengkapi dengan suara dan otot sehingga mereka memiliki artikulasi bahasa seandainya mereka memiliki intelijensi yang dibutuhkan,” E. A. Hooton, Up From the Ape (New York, 1931), hlm. 167.
                Selanjutnya, satu-satunya produksi artikulasi bunyi bukanlah penyimbolan sesuatu yang lebihb daripada sekedar “memahami kata dan bahasa” seperti yang diungkapkan (Darwin). John Locke telah menjelaskan persoalan ini dua setengah abad yang lampau: “Manusia, dengan demikian, secara alamiah telah memiliki organ-organ yang sudah begitu baik ini, sebagai artikulasi bunyi yang sudah pasti, yang kita sebut kata. Akan tetapi ini belum cukup untuk menghasilkan bahasa; karena burung beo, dan beberapa jenis burungb lainnya diajarkan membuat artikulasi bunyi cukup berbeda, yang sama sekali tidak memiliki kemampuan berbahasa. Di samping artikulasi bunyi, dengan demikian, lebih perlu lagi, bahwa burung itu seharusnya mampu menggunakan bunyi-bunyi itu sebagai tanda pemahaman batiniah; dan menjadikan bunyi itu berfungsi sebagai penanda ide-ide yang ada di dalam pikiran burung itu, dengan mana bunyi itu seharusnya dapat diketahui oleh burung-burung lainnya...,” Essay Concerning the human Understanding, III, 1, Bagian 2 dan 3. Dan J. F. Blumenbach, seabad kemudian, menyatakan di dalam bukunya On the natural Variety of Mankind, “Bahwa wicara adalah karya akal secara sendirian, tampak dari sini, bahwa binatang lainnya, meskipun binatang itu hampir memiliki organ suara yang sama seperti manusia, sepenuhnya tidak memilikinya” (dikutip oleh R. M. and A. W. Yerkes, op. cit, hlm. 23)

[15] Otak manusia kira-kira dua setengah kali melebihi besar otak gorilla. “Otak manusia sekitar 1/50 dari seluruh berat tubuh, sementara otak gorila beragam dari 1/50 sampai 1/200 bagian berat tersebut,” (Hooton, op. cit. Hlm. 153)
[16] “Secara keseluruhan, bagaimana pun juga, akan terlihat bahwa bahasa dan budaya bersandar, berdasarkan sebuah cara yang sepenuhnya tidak dapat dipahami, pada perangkat kemampuan yang sama...,” A. L. Kroeber, Anthropology (New York, 1923), hlm. 108.
                Diharapkan supaya esai ini akan membuat persoalan ini lebih “sepenuhnya dipahami.”
[17] Atas dasar alasan itulah maka observasi dan eksperimen terhadap kera, tikus, dan lainnya tidak dapat memberi tahu apa pun kepada kita tentang perilaku manusia. Observasi dan eksperimen ini dapat memberi tahu kita bagaimana manusia seperti kera dan manusia seperti tikus, tetapi cara itu tidak memberikan penjelasan terhadap perilaku manusia karena perilaku kera, tikus, dan lainnya bersifat nonsimbolik.
                Judul karya best-seller almarhum George A . Dorsey, Why We Behave Like Human Beings, salah kaprah berdasarkan alasan yang sama. Buku yang menarik itu bercerita banyak tentang perilaku binatang vertebrata, mamalia, primata dan bahkan perilaku binatang-manusia, tetapi sebenarnya sama sekali tidak menyangkut perilaku simbolik, yaitu manusiawi. Akan tetapi, kita senang untuk menambahkan, untuk bersikap adil kepada Dorsey, bahwa salah satu bagian tulisannya tentang fungsi wicara dalam kebudayaan dalam buku Man’s Own Show: Civilization (New York, 1931) II, barangkali merupakan pembahasan terbaik tentang persoalan ini sejauh yang kita ketahui dalam literatur antropologi.       
[18] Di dalam catatan mereka yang sangat menarik tentang eksperimen yang mereka lakukan terhadap bayi monyet yang dirawat selama sembilan bulan di dalam rumah dan memperlakukannya seperti anak mereka sendiri, Profesor dan Mrs. Kellogg berbicara tentang “humanisasi” monyet kecil: “Monyet itu dengan demikian dapat dikatakan telah menjadi ‘lebih manusiawi’ daripada subjek manusia...” (hlm. 315).
                Ini tentunya salah kaprah. Apa yang begitu menyolok ditunjukkan penguji-coba ialah betapa miripnya seekor monyet dengan seorang anak manusia homo sapiens sebelum anak itu belajar berbicara. Anak-anak itu bahkan menggunakan “food bark” (salakan untuk makan) yang biasa dipakai monyet tersebut! Penguji-coba juga mempertunjukkan ketidakmampuan total monyet untuk belajar berbicara, yang berarti sebuah ketidakmampuan untuk dimanusiawikan sama sekali.

Comments

Popular posts from this blog

Apa itu Cultural Studies??

ttg Helen Keller