Kajian Kritis
TINDAKAN KOMUNIKATIF SEBAGAI KERJA
(Kritik terhadap Iklan Politik dari Perspektif Habermas)
Tulisan kecil ini akan menelaah secara sekilas pandangan Habermas tentang dua tindakan dasar manusia, dengan berdasarkan pada pemaparan yang dibuat oleh Budi Hardiman dalam bukunya Kritik Ideologi: menyingkap kepentingan pengetahuan bersama Jurgen Habermas (2004).
Di dalam buku itu dijelaskan bahwa Habermas membagi tindakan dasar manusia ke dalam dua kategori berbeda: kerja atau tindakan rasional-bertujuan dan tindakan komunikatif. Yang pertama adalah tindakan dasar dalam hubungan manusia dengan alamnya sebagai obyek manipulasi. Yang kedua merupakan tindakan dasar dalam hubungan manusia dengan sesamanya sebagai subyek. Tindakan manusia terhadap alam bersifat monologonal, sedangkan tindakannya terhadap sesamanya bersifat dialog karena manusia berinteraksi melalui simbol-simbol yang dipahami secara intersubyektif sebagaimana nampak dalam penggunaan bahasa sehari-hari (Hlm. 99).
Ada suatu fenomena umum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat sekarang ini; yaitu, kecenderungan untuk mengeksploitasi tindakan komunikasi dan kerja sehingga batas antara kerja dan tindak komunikasi itu sendiri menjadi terdistorsi dan tidak jelas. Bentuk yang paling kasatmata adalah kecenderungan manusia untuk memanipulasi suatu tindakan komunikasi menjadi kerja, memanipulasi interaksi menjadi sebuah tindakan rasional-bertujuan, yang dengan cara itu manusia merekayasa interaksi sebagai sesuatu yang seharusnya menjadi sharing of knowledge antarsesama (interaksi intersubyektivitas sejajar) dan menjadikannya suatu manipulasi eksploitatif instrumental untuk memenuhi kebutuhannya; yaitu, dengan menjadikan manusia lain sebagai obyek alam yang perlu dimanipulasi. Kasus yang ingin saya kemukakan adalah interaksi sebagai tindakan komunikasi yang terbangun dalam ranah politik.
Gambar ini adalah sebuah iklan politik yang melukiskan seseorang yang berusaha membangun suatu komunikasi dengan khalayak (diambil dari Kompas, Jumat, 5 Desember 2008).
Dalam ranah politik, interaksi komunikatif yang terbangun cenderung berupa hubungan yang eksploitatif dan manipulatif antara dua pihak pelaku interaksi. Dalam hubungan sedemikian, pihak speaker ditengarai cenderung melakukan manipulasi terhadap pihak hearer, dengan pengertian bahwa, dalam hubungan ini, speaker mengabaikan fungsi tindakan komunikasi sebagai upaya mencapai kesepahaman bersama dan memanipulasinya menjadi tindakan rasional-bertujuan yang eksploitatif. Melihat iklan politik seperti ini, penulis teringat pada sebuah ungkapan: say what you mean and mean what you say. Penulis ragu apakah pengiklan yang menyampaikan pernyataan politis di atas menyadari apa yang ia katakan; yaitu, apakah benar bahwa jika ia terpilih ia akan mengatasi persoalan jalan macet, fasilitas jalan yang rusak, dan masalah kebanjiran?!! Penulis yakin sang pengiklan ini says what he doesn’t mean. Jika memang he says what he means, barangkali he doens’t mean what he says, politikus ini tidak bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Dalam kaitan ini, Habermas sudah menyinggung persoalan di mana tindakan rasional-bertujuan dapat dilakukan baik dalam dunia fisik maupun di dalam dunia sosial manusia. Habermas menyatakan bahwa dari segi pelaku tindakan, pelaku tindakan rasional-bertujuan memiliki orientasi pada sukses. Gagal atau berhasilnya tindakannya diukur dari sejauh mana keberhasilannya dalam mewujudkan suatu tujuan. Sejauh tindakan ini memasuki dunia alamiah dengan memenuhi aturan-aturan teknis tertentu, tindakan itu dapat disebut instrumental. Jika tindakan ini memasuki dunia sosial, tindakan ini menjadi strategis dengan memenuhi aturan-aturan bagi pemilihn rasional (Hlm. 101).
Jika penulis menyimpulkan sendiri penjelasan Habermas, tindakan strategis di atas adalah tindakan komunikasi-bertujuan; yaitu, bahwa kontestan pemilu (speaker) memandang manusia-manusia lainnya (hearer), atau khalayak, sebagai obyek alam yang perlu dimanipulasi dan diolah sedemikian rupa dan khalayak itu serta bahasa itu sendiri dipandang sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhannya yang direalisasikan di dalam interaksi komunikasi. Demikianlah, ideal hubungan interaksi sebagai tindakan komunikasi sudah terdistorsi menjadi sebuah kerja, sebagai tindakan rasional-bertujuan yang manipulatif. Dalam bahasa Habermas, tindakan seperti ini disebut ‘komunikasi yang terdistorsi secara sistematis’. Yaitu, suatu kondisi di mana jika pelaku interaksi yang secara tidak sadar menipu dirinya sendiri seakan-akan tidak bertindak secara strategis sementara menampakkan diri seolah-olah ingin mencapai saling-pemahaman (Hlm. 102).
Di samping itu pula, hubungan yang terbangun antara politikus dan khalayak dalam ranah politik pada perkembangannya yang karakteristik sekarang ini adalah condong pada suatu hubungan satu arah (monologonal) dan bukan pada suatu hubungan dua arah (dialogonal) sebagai suatu upaya untuk mencapai kesepahaman bersama. Dalam kaitan ini pula, ukuran keberhasilan dalam suatu komunikasi politik semacam ini bukanlah orientasi pada kesepemahaman-bersama, tapi lebih pada ketidak-berhasilan si politikus untuk mencapai tujuannya (mungkin, ia tidak berhasil dalam pencalonannya dalam pemilihan atau, jika terpilih pun ia tidak merealisasikan program-program politik yang dikampanyekan).

Comments
Post a Comment